SMANSAKUTO

Di Tengah Hujan Deras, Semangat Peserta Penjelajah MARGANANTARA Tak Surut

Kategori : BERITA   Dipublish pada tanggal 31/10/2026 22:53:21 WIB

#
BERITA 31/10/2026 22:53:21 WIB Dilihat 51 kali

Di Tengah Hujan Deras, Semangat Peserta Penjelajah MARGANANTARA Tak Surut

SMANSaKuNews. Memasuki musim penghujan, beberapa wilayah di Kebumen diguyur hujan yang cukup lebat. Hujan yang terjadi sejak semalem ternyata masih berlangsung hingga pagi hari, dimana semua murid kelas X akan melaksanakan kegiatan   mountaineering.  Mountaineering merupakan rangkaian kegiatan atau olahraga petualangan untuk mendaki dan menyusuri berbagai medan untuk melatih ketahanan fisik dan survival. Acara ini merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan Gudep pangkalan SMA Negeri 1 Kutowinangun, khususnya bagi andik kelas X. Kegiatan ini mencakup perpaduan berbagai disiplin ilmu, fisik, mental, dan penggunaan beberapa perlengkapan keselamatan di medan yang cukup ekstrim.

Sekitar 320 peserta mengikuti penjelajahan dengan jarak kurang lebih 4–5 kilometer melalui rute Argopeni hingga Pekunden dan kembali ke Lapangan Argopeni, pada Sabtu 31/10/2026. Dengan mengenakan jas hujan, para peserta tetap melanjutkan rangkaian kegiatan meskipun harus menghadapi medan yang basah dan kondisi cuaca yang kurang bersahabat.

Kegiatan mounteneering kali ini mengusung tema "Menumbuhkan Jiwa Penjelajah Alam yang Berani Melambung Tinggi, Mandiri, dan Bertanggung Jawab", kegiatan ini bukan sekadar perjalanan menyusuri alam terbuka, tetapi lebih dari itu untuk melatih kemandirian, kedisiplinan, keberanian, serta kekompakan antarpeserta.

Salah satu Pembina Pramuka putri yang mengawal langsung kegiatan ini Ibu Diana Nursanti, S.Pust menjelaskan bahwa “Kegiatan Mountaineering juga dirancang untuk mengembangkan karakter dan keterampilan murid melalui pengalaman langsung di alam bebas.”

“Melalui kegiatan Mountaineering dalam wadah MARGANANTARA ini, kami ingin menumbuhkan jiwa penjelajah alam yang berani, mandiri, dan bertanggung jawab. Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi murid untuk melatih kedisiplinan, kerja sama, kepemimpinan, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan,” ungkap Kak Diana panggilan akrabnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan apel pembukaan yang melibatkan OSIS, MPK, Rohis, dan Pesona. Selanjutnya, peserta mengikuti wide game yang di dalamnya terdapat pengujian wawasan kepramukaan dan penampilan yel-yel. Salah satu materi yang dinilai adalah Peraturan Baris-Berbaris (PBB), dengan empat perwakilan anggota dari setiap regu. Penilaian mencakup 12 gerakan dasar, formasi, serta variasi PBB antartongkat. Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya dituntut memahami materi kepramukaan, tetapi juga menunjukkan kedisiplinan dan kekompakan regunya.

Keseruan berlanjut melalui berbagai tantangan halang rintang. Peserta dihadapkan pada permainan jaring tali rafia berpola segitiga yang harus dilewati seluruh anggota tanpa menyentuh talinya, jaring laba-laba berupa rintangan tambang yang harus dilalui, hingga flying fox. Ada pula tantangan melewati susunan tali rafia vertikal tanpa menyentuhnya. Jika gagal, peserta akan mendapatkan coretan arang sebagai konsekuensi permainan. Berbagai tantangan tersebut menguji ketelitian, keberanian, dan kerja sama setiap anggota tim.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dewan Penegak Gugus Depan 085/086 SMA Negeri 1 Kutowinangun dengan dukungan Dewan Pramuka, Kopasus, dan PMR serta para pembina. Sejumlah guru turut mendampingi kegiatan ini, seperti Bapak Damar Purnasiwi Arifin, S.Pd., Siti Endah Purwani, S.Pd., Amanah, S.Pd., Desy Fatmawati, S.Pd., Wahyu Dwi Sutanto, S.Pd., dan Joni Purnomo, S.Pd. Setelah rangkaian wide game dan outbound, kegiatan dilanjutkan dengan aksi peduli lingkungan, pembagian bakti sosial, apel penutupan, serta pengumuman pemenang.

Di balik pakaian yang basah dan medan yang menantang, MARGANANTARA menyimpan pengalaman yang lebih dari sekadar kegiatan kepramukaan. Hujan menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi bersama, sementara setiap rintangan memberikan kesempatan bagi peserta untuk belajar saling membantu dan menjaga kekompakan. Pada akhirnya, semangat menjadi penjelajah bukan hanya tentang seberapa jauh langkah mampu berjalan, tetapi juga bagaimana keberanian, kemandirian, dan tanggung jawab tumbuh dalam setiap perjalanan. (red-SMANSaKu/Intan)

 

SMANSAKUTO

Berita Lainnya