Kategori : BERITA Dipublish pada tanggal 19/12/2025 11:50:46 WIB
SMANSaKuNews. Pengertian Bela Negara tidak hanya dimaknai secara sempit sebagai upaya mempertahankan negara melalui kekuatan fisik. Bela Negara harus dapat dimaknai secara luas, bagaimana kita sebagai warga negara dan generasi penerus memberikan kontribusi nyata pada negara sesuai dengan bidang kita masing-masing.
Hari ini, Jum’at, 19 Desember 2025, mengingatkan kita pada peristiwa 77 tahun silam, 19 Desember 1948, ketika Belanda melakukan agresi militer II ke Indonesia dengan menempati kota-kota strategis di Indonesia. Agresi Militer Belanda II juga menawan Presiden dan Wakil Presiden Kita, Soekarno-Hatta, yang ketika itu berada di Ibukota Yogyakarta.
Tentu terjadi kegoncangan stabilitas pemerintahan, sebab Kepala Negara ditawan Belanda. Kondisi tersebut, membangkitkan semangat para pejuang Nasional untuk menjaga keberlangsungan kepemerintahan, dengan membentuk Pemerintahan Darurat. Dimotori oleh Sjahfruddin Prawiranegara, dibentukklah Pemerintarahan Darurat Rebuplik Indonesia (PDRI)di Bukitinggi, Sumatera Barat. Yang kemudian diikuti oleh perlawanan di Aceh, Sumatera Utara, yang memberikan kontribusi besar kokohnya persatuan dan kesatuan nasional dalam memnjaga keutuhan wilayah Republik Indoensia.
Peringatan Hari Bela Negara ditandai dengan penyelenggaraan Apel yang dimpimpin langsung, Kepala SMA Negeri 1 Kutowinangun, Bapak Budiono, S.Si, M.Pd. Dalam sambutannya, Pak Budiono membacakan sambutan tertulis dari Presiden Republik Indonesia.
“Dunia saat ini berada dalam dinamika yang sangat cepat dan penuh ketidakpastian. Rivalitas geopolitik, krisis energi, disrupsi teknologi, hingga arus informasi yang mudah dimanipulasi menjadi tantangan nyata bagi seluruh bangsa. Ancaman terhadap negara tidak lagi bersifat konvensional, melainkan berbentuk perang siber, gerakan radikalisme, hingga ancaman bencana alam yang semakin sering terjadi. Dalam situasi seperti ini, semangat bela negara harus menjadi kekuatan kolektif seluruh warga lndonesia.
Saat kita memperingati Hari Bela Negara ke-77, saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tengah diuji oleh bencana alam. Ketiga wilayah ini memiliki peran sejarah yang luar biasa dalam perjalanan Republik, sehingga ujian yang mereka hadapi hari ini adalah panggilan bagi kita semua untuk hadir dan membantu mereka.
Dari Aceh, kita belajar tentang keteguhan sebuah wilayah yang sejak masa kerajaan telah menjadi benteng pertahanan Nusantara. Pada masa revolusi kemerdekaan, Aceh disebut sebagai “Daerah Modal" karena dukungan rakyatnya, baik logistik, pesawat, maupun dana yang menjadi penopang diplomasi dan perjuangan Republik. Tanpa keteguhan Aceh, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak akan sekuat yang kita kenai hari ini.”
Melalui peringatan hari Bela Negara diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kolektif untuk terus memperkuat semangat nasionalisme, tanggungjawab serta partisipasi aktif dalam pembangunan di berbagai bidang, sehingga terwujud negara yang berdaulat, mandiri dan tetap memiliki jatidiri bangsa. (red-SMANSaKu)