Kategori : BERITA Dipublish pada tanggal 02/10/2026 20:07:55 WIB
SMANSaKu.News. Literasi merupakan kemampuan penting yang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, mengolah, menggunakan, serta menyampaikan informasi dalam berbagai bentuk dan konteks kehidupan. Oleh karena itu, penguatan literasi di sekolah perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai kegiatan yang menarik, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan murid. Literasi yang kuat diharapkan dapat membentuk murid yang kritis, kreatif, komunikatif, berwawasan luas, serta memiliki kepedulian terhadap budaya dan lingkungan sekitarnya.
Sebagai upaya memperkuat budaya literasi, SMA Negeri 1 Kutowinangun telah melaksanakan berbagai program dan menyediakan sarana pendukung literasi. Program tersebut antara lain pemanfaatan pojok baca di setiap kelas, taman baca, sarana gedung dan pelayanan perpustakaan, perpustakaan digital, serta museum digital. Selain penyediaan sarana, penguatan literasi juga dilakukan melalui berbagai program pembiasaan, seperti Literasi Pagi dalam Gema Bahana, Berimis (Gerakan Berbahasa Jawa Setiap Hari Kamis), literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya.
Koordinator kegiatan Bimtek Pengimbasan, Teguh Riyanto, S.Kom, ketika dimintai keterangan menyampaikan “SMA Negeri 1 Kutowinangun di tahun 2026 ini kebetulan memperoleh bantuan pemerintah berupa BOSKinerja (Boskin), bersama 3 sekolah lain, yaitu SMA Negeri 1 Mirit, SMA Negeri 1 Pejagoan dan SMA Muhammdiyah Gombong. Bantuan ini diberikan kepada sekolah yang dianggap mengalami kenaikan prestasi, sehingga harus menularkan berbagai praktik baik kepada semua sekolah di Kabupaten Kebumen, dalam bentuk kegiatan pengimbasan. Sekolah kita kebetulan ditunjuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Bimtek Pengimbasan bagi semua sekolah Negeri dan swasta se-Kabupaten Kebumen” jelasnya.
Narasumber Bimtek (Bimbingan Teknis) masing-masing menyampaikan materi tentang SPMI, Literasi dan Numerasi dan Digitalisasi Pembelajaran. Salah satu narasumber berasal dari SMA Negeri 1 Kutowinangun yang dipercayakan kepada Bapak Suratno, S.Pd, yang mengangkat tema tentang Bagaimana Penguatan Literasi dan Numerasi (Litnum) di SMA Negeri 1 Kutowinangun, agar dapat menjadi rujukan sekolah lain. Di akhir paparan materinya, Suratno sempat membuat semua peserta tercengang, dengan munculnya pagelaran wayang yang dimainkan oleh Dalang murid, Panggrahito darikelas FD-8.
Kegiatan ini tidak sekedar menjadi tontonan, tetapi menjadi media pembelajaran yang mengenalkan kepada peserta tentang seni tradisional, bahasa, cerita, nilai-nilai kehidupan, karakter tokoh, serta kearifan lokal yang terkandung dalam pewayangan yang menampilkan tokoh punakawan. Meskipun hanya diiringi musik gamelan menggunakan MP3, cukup menyita perhatian tsemua peserta Bimtek dari berbagai sekolah ini, yang terbawa alur cerita yang menyampaikan tema-tema tentang literasi dan numerasi.
Keterlibatan murid sebagai pelaku seni menunjukkan bahwa literasi budaya dapat tumbuh melalui pengalaman langsung, kreativitas, dan keberanian untuk berkarya.Melalui berbagai program penguatan Lietrasi dan Numerasi, SMA Negeri 1 Kutowinangun berupaya membangun budaya literasi yang tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi berkembang menjadi kemampuan memahami, berpikir, berkomunikasi, berkarya, dan menghargai budaya. Dengan demikian, literasi
Melalui berbagai program tersebut, SMA Negeri 1 Kutowinangun berupaya membangun budaya literasi yang tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi berkembang menjadi kemampuan memahami, berpikir, berkomunikasi, berkarya, dan menghargai budaya. Dengan demikian, literasi menjadi bagian dari kehidupan sekolah sekaligus bekal penting bagi murid untuk menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan akar budayanya. (red-SMANSaKu)