SMANSAKUTO

Kelas X/Fase E Suguhkan Tari Lawet Kolosal

Kategori : BERITA   Dipublish pada tanggal 30/04/2025 11:59:38 WIB

#
BERITA 30/04/2025 11:59:38 WIB Dilihat 334 kali

Kelas X/Fase E Suguhkan Tari Lawet Kolosal

SMANSaKuNews. Memeriahkan acara Lounching Branding sekolah dan sekaligus Panen Raya P-5 bagi siswa kelas X/fase E, digelar tarian kolosal “Tari Lawet”. Tari Lawet merupakan tarian tradisional khas Kebumen, karya Bapak Sarjoko pada sekitar bulan Pebruari tahun 1989. Tarian ini menggambarkan Kabupaten Kebumen sebagai salah satu “sarang Lawet” yang merupakan kekayaan alam daerah yang tidak dimiliki oleh semua Kabupaten lain.

Gagasan pembuatan tarian lawet ini, berawal dari keinginan Bupati Kebumen pada saat itu untuk mengadakan pentas tari massal khas Kebumen dalam rangka pembukaan Jambore Daerah Jawa Tengah di bumi perkemahan Widoro, Kecamatan Karangsambung. Melalui Bapak Sarjoko, keinginan Bupati dapat terwujud melalui karya Tarian Lawet, yang sampai saat ini sering dimainkan di berbagai acara resmi di Pemerintah Kabupaten Kebumen dan berbagai ivent-ivent tertentu, sebagai media untuk menunjukkan ciri khas Kebumen ke masyarakat luas.

Melalui tarian Lawet ini, diharapkan dapat menjadi kekayaan budaya lokal dan dapat dijadikan media untuk mengenalkan Kebumen di kancah Nasional, sebagai salah satu daerah yang memiliki ciri khas sarang burung walet. 

Penari Lawet menggunakan kostum yang sebagian besar didominasi warna hitam dengan ubed dari kain baik dan penutup kepala yang menyerupai burung walet.

Tarian Lawet ini menggambarkan kehidupan burung Lawet, mulai dari bangun tidur, keluar dari goa untuk mencari makan, hingga kembali lagi ke sarang di sore hari.  Gerakan Tari lawet cukup lincah, seperti Lawet yang menggambarkan kehidupan lawet yang dinamis, cekatan, tahan terhadap terpaan angin dan mampu bertahan hidup di batu karang, di tepi lautan sekalipun. Ragam gerak Tari Lawet meliputi gerakan ngulet, angklingan, didis, loncat egot, sileman, ukel nyucuk, lincak nyucuk, kepetan, aburan, ngasah cucuk, erek/giring, dan sarangan. 

Meski bentuknya kecil, burung ini mampu menghasilkan sarang lawet yang lumayan mahal harganya, karena dipercaya mengandung banyak kasiat, baik untuk obat-obatan, kosmetika dan nutrisi olahan lainnya.

Tari ini dimainkan oleh sekitar 300 siswa yang sebagian besar kelas X dan siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler tari. Ekstrakurikuler Tari cukup diminati para siswa, sehingga sangat tepat jika sekolah menyediakan ruang khusus pengembangan bakat dan minat siswa di bidang seni tari melalui kegiatan ekstrakurikuler. (red-SMANSaKu)

SMANSAKUTO

Berita Lainnya