SMANSAKUTO

Sang Pendeta Tinggal Menghitung Hari

Kategori : BERITA   Dipublish pada tanggal 28/10/2025 08:16:42 WIB

#
BERITA 28/10/2025 08:16:42 WIB Dilihat 805 kali

Sang Pendeta Tinggal Menghitung Hari

SMANSaKuNews. Tak terasa perjalanan pria kelahiran Desa Giritirto, Kecamatan Karanggayam, 5 Oktober 1965 sebagai tenaga pengajar di SMA Negeri 1 Kutowinangun, tinggal beberapa hari lagi, karena pada tanggal 1 November 2025, Ruwiyanto harus mengakhiri masa pengabdiannya dan masuk masa pensiun. Ruwiyanto kecil tinggal di salah satu Desa terpencil, Giritirto Kecamatan Karanggayam sampai menyelesaikan sekolah SD, kemudian di tahun 1986 menyelesaikan sekolahnya di SMA Masehi Kebumen. setelah tamat SMA, Ruwiyanto yang telah beranjak remaja, kemudian bertekad mengadu nasib dengan merantau ke Jakarta untuk bekerja sambil melanjutkan kuliah D-2 di ITKI PertamburanJakarta Pusat, Setelah selesai D-2, kemudian Ruwiyanto bertandang ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah S-1 jurusan Theologi hingga selesai pada tahun 1989. Setelah selesai kuliah S-1, Ruwiyanto kemudian kembali ke Kebumen dan mulai mengajar Pendidikan Agama Kristen di SMP dan SMEA Wiji Asih Kutowinangun selama 6 tahun, mulai th 1990-2002. Pada tahun 2000 Ruwiyanto diangkat menjadi PNS di SMA Kutowinangun, sambil menempuh kuliah S-2. Untuk memenuhii kebutuhan jam mengajarnya, Pak Ruwi, panggilan akrabnya, juga sambil mengajar di beberapa sekolah lain, seperti di SMP Diponegoro, SMAN 1 Klirong. SMK N 1 Karanggayam, dan SMK Bhatik 1 Kebumen, sampai sekarang. Selain di sekolah sebagai tenaga pengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen, Ruwiyanto juga aktif di beberapa kegiatan gereja sebagai seorang pendeta. Pengalamannya selama 25 tahun mengajar di SMA Negeri 1 Kutowinangun, Ruwiyanto senantiasa mengajarkan hidup bertoleransi antar umat beragama. Di akhir masa kerjanya, ketika ditemui jurnalis SMANSaKu, Ruwiyanto memberikan pesan Hidup Damai dan Toleransi dalam bentuk puisi.

 

HIDUP DALAM DAMAI DAN TOLERANSI

(Oleh Ruwiyanto)

 

Beberapa hari lagi langkahku pamit,

Dari ruang kelas tempat kasih terbit.

Puluhan tahun kutanam nilai,

Tentang cinta, hormat, dan damai sejati.

 

Aku guru agama, saksi perjalanan,

Bahwa iman sejati lahir dari ketulusan.

Tak penting beda cara berdoa,

Asal hati penuh kasih sesama manusia.

 

Kepada murid-muridku kuceritakan,

Bahwa damai adalah warisan kehidupan.

Toleransi bukan tanda lemah,

Namun bukti cinta yang sungguh indah.

Kelak bila aku tak lagi di sini,

 

Jagalah persaudaraan ini sepenuh hati.

Hiduplah rukun, saling menghargai,

Agar Indonesia bersinar dalam damai Ilalhi.

Puisi ini menjadi puisi pertama dan terakhirnya selama mengabdi di sekolah ini. Dibalik sikapnya yang yang ceria dan sedikit kocak ini, ternyata Ruwiyanto tengah menerapkan sikap berdama dan toleransinya kepada sesama warga sekolah, dengan tak pernah terlihat sekalipun Ruwiyanto marah di depan para murid atau sesama rekan kerjanya. Ketika ditanya, apa agenda setelah pensiun, Ruwiyanto menjawab “Akan terus mengabdi kepada masyarakat, agama dan mungkin akan kembali bertani di kampung halamannya di Desa Giritirto, Kec, Karanggayam” ungkapnya  (red-SMANSaKu)

SMANSAKUTO

Berita Lainnya