Kategori : BERITA Dipublish pada tanggal 17/11/2021 14:27:15 WIB
SOSIALISASI & LAUNCHING SEKOLAH SIAGA KEPENDUDUKAN (SSK)
Kutowinangun, Gempita New – Dewasa ini, Indonesia tengah memasuki fenomena kependudukan yang disebut dengan bonus demografi. Bonus demografi merupakan keadaan dimana saat jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) prosentasenya lebih dari 50% dibandingkan dengan jumlah penduduk usia non produktif (0-14 tahun dan >65 tahun). Oleh karena itu, pemerintah harus segera mengatasi masalah ini agar masyarakat terhindar dari dampak kependudukan. Salah satu upayanya adalah dengan adanya program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK).
“SSK merupakan sebuah terobosan pemerintah untuk menciptakan generasi yang memahami betul bagaimana mempersiapkan pernikahan dengan matang dan menghindari pernikahan usia dini. Mudah-mudahan kegiatan ini dapat bermanfaat bagi guru dan siswa-siswa guna menghadapi tantangan duapuluh-tigapuluh tahun kedepan” ujar Bapak Waluyo, selaku Kepala Sekolah SMAN 1 Kutowinangun.
Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) adalah sekolah yang mengintegrasikan pendidikan kependudukan dan keluarga berencana ke dalam beberapa mata pelajaran sebagai pengayaan materi pembelajaran. SMA N 1 Kutowinangun ditunjuk sebagai salah satu sekolah dengan program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) yang disosialisasikan serta diresmikan hari Selasa kemarin (9/11). Melalui program ini, siswa-siswi SMA N 1 Kutowinangun dapat memperoleh tambahan materi mengenai pendidikan kependudukan dan keluarga berencana.
Kegiatan ini dibersamai dengan beberapa narasumber yakni Sutarso, S.H., M.M. selaku Kasi Dinas Sosial PPKB Kab. Kebumen serta dr. Aris Ekosulistiyono, M.M. Kabid. PPKB Kab. Kebumen. Bu Indah, koordinator lapangan BKKBN unit Kutowinangun, komite sekolah, serta guru dan karyawan SMA N 1 Kutowinangun juga ikut meramaikan kegiatan sosialisasi dan launching Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) di SMA N 1 Kutowinangun yang dilaksanakan di gedung Multimedia.
Sasaran pendidikan kependudukan melalui jalur pendidikan formal yaitu SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi; jalur non formal yaitu Balai Diklat seperti diklast ASN dan Kepramukaan; serta jalur informal yaitu keluarga/kelompok kegiatan masyarakat. (De)