Kategori : BERITA Dipublish pada tanggal 10/10/2026 08:51:04 WIB
SMANSaKuNews. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai pahlawannya. Kebumen di usia 397 tahun, tentu menorehkan catatan sejarah yang cukup panjang. Kebumen lahir dari peradaban para tokoh pendiri, yang tidak bisa dilepaskan dari kerajaan besar yang pernah Berjaya di tanah Jawa, yaitu Mataram, di abad ke-17 di bawah kekuasan Sultan Agung Hanyakrakusuma. ada beberapa tokoh penting yang menjadi perintis sejarah Kebumen, diantaranya ada 2 tokoh penting dari Mataram yang makamnya berada di Kecamatan Kutowinangun, yaitu KPA Bumidirjo dan Aroengbinang.
Dalam rangkaian kegiatan Kokurikuler kali ini, murid Kelas X dan XI SMA Negeri 1 Kutowinangun diajak mengunjungi langsung makam kedua tokoh tersebut, agar mengenal lebih jauh siapa tokoh KPA Bumidirjo dan Aroengbinang dalam kegiatan yang bertemakan "Menelusuri Jejak Leluhur Kebumen" pada Jumat (9/10/2026).
Dengan berjalan kaki, semua murid diarahkan menuju Makam Pangeran Bumi Dirjo yang terletak di perbatasan Desa Karangrejo dan Desa Lundong (Dusun Lundong) dan Makam Aroembinang yang berjarak sekitar 1 km, yang terletak di Dusun Kebejen, Desa Kuwarisan Kecamatan Kutowinangun
Kyai Bumi atau Kyai Bumi Dirjo, menjadi tokoh sentral dalam sejarah Kebumen. Nama 'Kebumen' sendiri diyakini berasal dari kata 'Kabumian' yang berarti tempat Kyai Bumi Berada. Seiring dengan berjalannya waktu,'Kabumian' beralih menjadi 'Kebumen' yang kita kenal saat ini.
Sebelum mendengarkan cerita sejarah dari para juru kunci, semua murid-murid melakukan ziarah yang dipimpin oleh Bapak Khomsin Nursadat, S.Pd yang juga salah satu keturunan trah Aroengbinang dan Bapak Maghfur Afandi, S.Pd,.
Dalam kesempatan tersebut, juru kunci makam Bumi Dirjo, Sriyono. menjelaskan secara runtut, sejarah dan siapa KPA Bumi Dirdjo. “Pangeran Bumidirjo, merupakan tokoh penting dan menjadi cikal bakal nama Kebumen. Pangeran Bumi Dirdjo merupakan salah satu punggawa Mataram, adik dari Raja Mataram Sultan Agung, atau paman Amangkurat I yang berkuasa di Mataram menggantikan ayahnya Sultan Agung. Karena ada selisih paham dengan Raja Amangkurat I, Ki Bumi Dirdjo, akhir memilih lengser keprabon, melakukan pengembaraan kea rah Barat untuk mencari tempat yang aman. Dalam perjalannya, Ki Bumi Dirjo menyamar sebagai Ki Bumi, dan sampailah di Panjer Kebumen, yang kala itu dibawah kekuasaan Ki Panjer Roma II. Ki Bumi Dirdjo mendapat tanah perdikan untuk tinggal di bantaran sungai Lukulo dan untuk menyamarkan identitasnya, mengganti Namanya menjadi Kyai Bumi. Wilayah tempat tinggalnya kemudian dikenal sebagai "Kabumian", dan seiring berjalannya waktu, nama Kabumian dilafalkan menjadi "Kebumen". jelasnya
Perjalanan dilanjutkan ke Makam Aroembinang di Dusun Kebejen, Desa Kuwarisan. Di lokasi ini, juru kunci Bambang Kuncoro memaparkan sejarah Joko Sangkrip, bangsawan Mataram yang mengabdi hingga dianugerahi gelar Raden Tumenggung Aroembinang I oleh Sunan Pakubuwana III pada tahun 1749. Gelar tersebut bertahan hingga delapan generasi, di mana Aroembinang IV tercatat sebagai Bupati pertama Kabupaten Kebumen.
Menariknya, lokasi pemakaman Aroembinang berada di Kutowinangun karena permintaan khusus Joko Sangkrip sendiri. Ketika masih menderita penyakit kulit semasa muda, ia mengembara hingga menemukan sebuah sumur/sendang di lokasi tersebut. Setelah berendam dan berhasil sembuh, Joko Sangkrip sembuh dari penyakit kulitnya dan kemudian beliau berwasiat agar kelak dimakamkan di dekat tempat penyembuhannya itu dan sendang tempat mandi diberinama Sendang Arum.
BapakJoni Purnomo, S.Pd selaku Koordinator kegiatan Kokurikuler kali ini, menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk menjaga rasa bangga terhadap sejarah lokal. "Tujuan outing class dalam rangka kegiatan kokurikuler kali ini, agar generasi muda, para pelajar mengenal sejarah daerahnya sendiri, menghargai para leluhur yang banyak berjasa berdirinya Kabupaten Kebumen, apalagi letak makam tokoh penting tersebut ada di wilayah Kecamatan kita, Kutowinangun.” Jelasnya
Di Kecamatan Kutowinangun terdapat 2 makam tokoh penting yang tidak bisa dilepaskan dari berdirinya Kabupaten Kebumen dan tercatat dalam sejarah. Dengan berkunjung lngsung ke makam, harapannya agar anak-anak lebih mengenal dan tidak mudah lupa.
“Sebelum mempelajari sejarah dunia, sejarah Indonesia, dan sejarah luar negeri, maka sebaiknya kita mengenal sejarah daerah kita sendiri dulu. Kita tidak meninggalkan jati diri kita, kita harus mengenal sejarah daerah kita, sehingga ada rasa bangga dan memiliki," imbuhnya.
Para peserta juga merasa senang, dapat belajar sejarah langsung di lapangan, tidak hanya membaca di buku. Salah satu peserta, Septian Dwi Irfanza, murid kelas X E.7, mengungkapkan, "Kami merasa senang sekali mengikuti kegiatan outing class ini, menjadi lebih mengenal para tokoh dan sejarah yang ada di Kebumen. Kegiatan seperti ini sangat penting agar anak-anak muda tidak kehilangan nilai-nilai sejarah yang ada di daerahnya." (red-SMANSaKu/Rizal dan Tasya)