Kategori : BERITA Dipublish pada tanggal 11/11/2024 15:35:24 WIB
SMANSAKuNews. Unta identik dengan hewan mamalia khas padang pasir. Hewan khas padang pasir ini dipakai sebagai media transportasi perdagangan dan kendaraan dalam berperang. Unta memiliki timbunan lemak sebagai cadangan makanan yang disimpan dipunggung, yang kenal dengan “punuk” menyebabkan unta mampu bertahan di daerah gersang sekalipun. Punuk yang berisi timbunan lemak inilah yang dijadikan unta sebagai cadangan makanan, yang menyebabkan unta mampu bertahan tidak makan selama berhari hari. Bahkan Unta arab hanya minum setiap 10 hari sekali, meskipun kondisi cuaca sangat panas.
Unta yang dihadirkan di halaman SMA Negeri 1 Kutowinangun adalah unta rekaan, hasil kreatifitas siswa ekstrakurikuler Rohis Al Irsyad (Rohani Islam) yang tampil untuk memeriahkan grand opening peringatan HUT SMA N 1 Kutowinangun ke-40, melengkapi kisah cerita Dakwah dari zaman ke zaman.
Dakwah di Era Rasulullah yang dimotori juga oleh Ali bin Abu Tholib adalah dakwah dengan kedamaian, menggunakan kendaraan unta sebagai alat transportasi utama, namun tak segan-segan menggunakan pedang sebagai senjata pamungkas jika ada musuh yang mengancam.
Saat Islam masuk ke tanah Jawa, yang digambarkan zaman wali sanga, Sunan Kalijaga memadukan budaya Jawa dan Wayang sebagai media untuk dakwah Islam, termasuk menggunakan lirik-lirik tembang Jawa, seperti Lir-ilir. Terbukti dakwah Sunan Kalijaga mampu menggeser agama sebelumnya, dan masyarakat tertarik masuk Islam.
Berbeda zaman, beda kisah dan caranya dalam melakukan dakwah. Maka, dakwah di era modern dan pesat dengan perkembangan teknologi, dibutuhkan pendakwah yang gaul, dengan bahasa yang simpel dan mudah diterima di kalangan generasi muda, sebagaimana dilakukan ustadz-ustadz modern seperti Ustadz Hanan Attaqi, Alwi Assegaf dll
Kisah dakwah yang diperankan 13 siswa Rohis ini cukup menarik perhatian penonton dengan kehadiran hewan unta di halaman upacara, sebagai simbol dakwah di masa Ali bin Abu Tholib.
Menurut Ketua Rohis, Muhammad Ihsan Zamzani, Siswa Kelas XI/FD-1, “Pada kesempatan kali ini, siswa yang tergabung dalam Rohis sengaja membawakan kisah dakwah dari zaman-ke zaman, agar menjadi motivasi bagi pelajar untuk meneruskan jejak para pendakwah sebelumnya, dengan tetap melestarikan seni budaya Islam, namun tetap berinovasi dengan membuat konten dan event kegiatan keagamaan yang menarik, yang diminati generasi muda. Karena tiap zaman memiliki cara yang berbeda, tetapi tujuannya yang sama dalam berdakwah” tuturnya kepada jurnalis SMANSaKU saat dimintai tanggapannya
Menurut Pembina Ekstrakurikuler Rohis, Maghfur Afandi, S.Pd, yang mendampingi siswa tampil di acara ini menjelaskan “Tema penampilan yang diambil sengaja yang memiliki ciri khas keagamaan, khususnya sejarah peradaban Islam yang berkiblat pada negara Arab, mengingat Ekstra Rohis memang mengedepankan pembinaan spriritual keagamaan” jelasnya (red-SMANSaKu)