SMANSAKUTO

Mengenal Mentiet, Kesenian Khas Kebumen Yang Terancam Punah

Kategori : BERITA   Dipublish pada tanggal 22/04/2025 21:05:17 WIB

#
BERITA 22/04/2025 21:05:17 WIB Dilihat 2077 kali

Mengenal Mentiet, Kesenian Khas Kebumen Yang Terancam Punah

SMANSaKuNews. Kebumen memiliki banyak kesedian daerah yang khas, diantaranya ada kuda lumping, cepetan, jamjaneng, menthiet, dll. Dari beberapa kesenian, menthiet termasuk yang sudah jarang sekali dipertunjukkan, bahkan banyak masyarakat yang tidak mengenal kesenian menthiet ini

Mentiet sering disebut juga  Jemblung, yaitu suatu jenis kesenian khas dan asli Kebumen yang dikenal cukup tua. Menthiet juga dikenal sebagai kesenian yang paling ringkas/simpel, sebab tidak memerlukan piranti alat musik apapun. Baik dialog maupun iringan musiknya menggunakan mulut masing-masing pemain. Jumlah pemain menthiet biasanya 3-5 orang, 1 orang diantaranya perempuan yang bisa berperan ganda, sebagai pemain dan sinden/waranggana. Para pemain biasanya mengenakan pakaian adat Jawa, dengan nuansa hitam atau batik, yang duduk bersila/bersimpuh mengitari meja yang ditengahnya berisi sajian tumpeng/sesaji lainnya. Di perjalanannya kostum pemain disesuai dengan lakon yang dibawakan dan para pemain menggunakan kursi, layaknya suasana rapat/pertemuan, yang penting para pemain berhadapan sehingga memudahkan dalam berdialog.

Pertunjukkan menthiet tidak memerlukan panggung khusus, cukup sebuah meja rendah untuk tempat tumpeng/sesaji sekaligus konsumsi dari para pemainnya. Sesaji atau tumpeng ini juga bisa menjadi obyek pemain dalam memperagakan ceritanya. Adapun cerita yang disuguhkan bisa diambil dari lakon ketoprak, lakon wayang, lakon Panji, babad menak, hikayat atau cerita rakyat yang berkembang.

Kesenian menthiet lahir sekitar abad 17 M, di era Mataram Islam, ketika agama Islam mulai masuk di Indonesia, khususnya tanah Jawa, sehingga cerita menthiet umumnya berkisah tentang sejarah Islam dari Timur Tengah (Persia) sampai ke Indonesia, yang dikenal dengan babad Menak. Babad Menak berasal dari karya sastra Persia "Qissa i Emr Hamza" yang menceritakan kisah seorang pahlawan Islam bernama Amir Hamzah, yang dibuat pada zaman Sultan Harun Al-Rasyid. Karya sastra ini kemudian diterjemahkan dan diadaptasi ke dalam bahasa Jawa, dikenal sebagai "Serat Menak". 

Di Pulau Jawa, Wali Songo punya peran besar dalam menyusun dan mengonsep Serat Menak sebagai medium dakwah. Secara empiris, Wali Songo, khususnya Sunan Giri  dan Sunan Bonang  punya peran besar dalam menyusun konsep Wayang Menak.

Dalam kitab Kawruh Asalipun Ringgit , disebut bahwa pada 1485 Saka (1563 M), Sunan Giri menciptakan Wayang Menak, dengan bentuk wujudnya yang menyerupai Wayang Purwa. Kemudian pada tahun 1486 Saka (1564 M), Sunan Bonang juga menciptakan Wayang Beber Menak, untuk memodifikasi wayang Beber Purwa.

Serat Menak" kemudian menjadi dasar cerita untuk berbagai bentuk pertunjukan kesenian, seperti angguk, wayang golek (menak), wayang kulit (menak), wayang wong/wayang orang, wayang menak dan menthiet,

Beberapa tokoh dalam cerita menthiet seperti Umarmaya dan Umarmadi,  Wong Agung Jayeng Rana atau Amir Ambyah, Nabi Sulaiman, Ratu Bilqis, Patih Logender, Koparman, Eman Suwangsa, dll.

Serat Menak sudah beredar di Pulau Jawa sejak abad ke- 17 M. Pada awal abad ke-17 M, terdapat naskah Menak (Jawa) dalam bentuk lontar sebanyak 119 lembar. Pada 1627 M, Andrew James menyerahkan naskah lontar itu ke Bodleian Library. Artinya, sekitar satu abad sebelum Para Pujangga Surakarta menulisnya, Serat Menak sastra Amir Hamzah telah masuk dan beredar luas di Jawa

Perjunjukkan menthiet atau jemblung dilakukan dengan cara duduk bersila/bersimpuh saling berhadapan dengan menghadapkan berbagai sajian makanan dan minuman (tumpeng/sesaji) yang ada kalanya berfungsi sebagai pendukung jalannya cerita.

Dalam pementasannya menthiet memiliki alur cerita (lakon) yang dimainkan dalam jeda waktu sekitar 5 sampai 6 Jam. Kala itu Menthiet merupakan jenis kesenian yang sangat merakyat dan dapat masuk ke berbagai golongan, cara penampilannyapun sangat sederhana, sehingga tepat sebagai media dakwah/syiar Islam kala itu. Ketika dialog mereka akan memerankan tokoh yang diperankan masing-masing. Namun ketika pada saat adegan jalan atau perang atau nyanyian mereka secara kompak akan memainkan suara gamelan dari mulutnya. Kelucuan akan timbul saat terjadi kesalahan musik yang tidak disengaja. Tapi semua justru menjadi lebih mudah diterima oleh penontonnya dengan sukacita.

Sementara kesenian jemblung, sebenarnya lebih dahulu berkembang sebelum menthiet, namun keduanya memiliki banyak kemiripan, baik tentang alur cerita, tokoh, cara bermain dan sesaji yang diperlukan. Perbedaannya hanya di jumlah pemainnya, sebab pada kesenian jemblung tidak ada pemain perempuan/sinden dan pemainnya biasanya hanya 3 orang. Pola permainan kedua jenis musik ini sama, tokoh dan gamelan dimainkan dengan mulut, bahkan kadang satu orang bisa memerankan beberapa tokoh. Sehingga saat terjadi dialog, seperti dalang, ngomong sendiri, bertanya sendiri dan dijawab sendiri, layaknya orang Gemblung (gila). Oleh bangsa Company/ Belanda pada saat itu, menyebutnya menthiet sebagai seni Gemblung (berbicara dan dijawab bersautan sendiri). Namun karena ejaan huruf Belanda G dibaca J, kata Gemblung orang orang Belanda seolah dibaca menjadi Jemblung.

Kesenian Menthiet atau Jemblung di Kabupaten Kebumen pada saat sudah sangat langka, dan terancam punah. Para pemain sebagian sudah tutup usia, dan tidak terjadi regenerasi dengan baik, karena tergerus dengan kesenian baru/modern yang dianggap lebih menarik. (red-SMANSaKu-Pak RT/disarikan dari berbagai sumber)

SMANSAKUTO

Berita Lainnya