SMANSAKUTO

Sosialisasi Tentang Pencegahan Penyakit TBC

Kategori : BERITA   Dipublish pada tanggal 21/02/2025 19:24:12 WIB

#
BERITA 21/02/2025 19:24:12 WIB Dilihat 396 kali

Sosialisasi Tentang Pencegahan Penyakit TBC

SMANSaKuNews. TBC (Tuberculosis) adalah penyakit yang umumnya menyerang sistem pernafasan manusia, yaitu paru-paru. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri  Mycobacterium tuberculosis, yang penularannya dapat melalui drop plate, ludah, bersin atau keringat orang yang terjangkit TBC. Penderita Tuberculosis (TBC) di Indonesia cukup banyak, sehingga pemerintah secara berkala melakukan sreening peyakit ini melalui Dinas Kesehatan, Puskesmas atau Posyandu secara gratis, untuk mengetahui secara dini gejala berkembangnya penyakit TBC ini, termasuk ke sekolah-sekolah dan instansi pemerintah. Selain menyerang organ paru-paru, TBC juga dapat menyerang tulang belakang, kulit, otak, kelenjar getah bening, dan jantung

dr.Nugroho Arif Budiono dalam paparannya “Penyakit TBC (Tuberkulosis) adalah salah satu penyakit yang masih menjadi ancaman bagi masyarakat kita. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, tidak memandang usia, jenis kelamin, atau status sosial. Oleh karena itu, kegiatan pencegahan penyakit TBC ini sangat penting untuk dilakukan. Kita harus meningkatkan kesadaran dan pengetahuan kita tentang penyakit TBC, serta bagaimana cara mencegahnya” ungkapnya

Sementara menurut Siti Wahyuni, salah satu petugas Kesehatan dari Puskesmas Kutowinangun saat diwawancarai Jurnalis SMANSaKu menjelaskan “Sosialisasi tentang penyakit TBC dilakukan di SMA Negeri 1 Kutowinangun, untuk menindaklanjuti hasil screening secara mandiri beberapa waktu lalu. Hasil screening ini menjadi data awal untuk melakukan deteksi dini adanya penyakit TBC di lingkungan sekolah. Ada sekitar 119 data screening yang butuh tindaklanjut, dengan melakukan visitasi untuk melakukan sosialisasi dan validasi data screening bersama LSM MSI (Mentari Sinar Indonesia), sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang kesehatan, sosial, dan pendidikan” jelasnya

Sekolah tidak perlu merasa khawatir apalagi panik, sebab screening baru tahap identifikasi. Untuk memastikannya, masih ada tahap proses pengecekan di laboratorium terhadap dahak mereka yang punya potensi mengidap TBC. Selain melakukan sosialisasi dan edukasi tentang penyakit TBC, mulai penyebab, gejala dan cara penanganannya, tim Medis gabungan dari Puskesmas, Dinkes dan LSM MSI juga melakukan pendalaman screening serta pengambilan sampel dahak. Hasil uji laboratorium baru dapat dijadikan kesimpulan medis, seorang mengidap penyakit TBC atau tidak. Penyakit ini juga dapat dideteksi dari gejalanya, seperti sesak nafas, demam, berkeringat di malam hari, nafsu makan berkurang dan batuk dalam jangka waktu yang cukup lama. 

Yang perlu dilakukan sekolah adalah menjaga kebersihan lingkungan, menjaga pola hidup sehat dan menjaga stamina tubuh agar senantiasa sehat tidak terjangkit virus ini.

Dalam kesempatan itu hadir Ibu Nurhayati Darojah, Afiyah dan Ugeng Apriyadi dari LSM MSI. Sementara dari Puskemas Kutowinangun ada Ibu Siti Wahyuni, Sriatun Mahmudah dan Widya Agresia

“TBC adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri, bukan virus, sehingga lebih mudah disembuhkan. Jika ada yang mengidap penyakit TBC, dan rajin minum obat, dalam kurun 2 minggu penyakit ini akan sembuh” imbuh Siti Wahyuni.  (red-SMANSaKu-Kesiswaan)

SMANSAKUTO

Berita Lainnya