Kategori : BERITA Dipublish pada tanggal 06/08/2026 15:19:07 WIB
SMANSaKu-News. Pulau Bali memang menyimpan seribu keunikan budaya, tradisi dan destinasi wisatanya. Bahkan para turis asing lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Bali dijuluki sebagai Pulau Dewata yang artinya pulau tempat para Dewa. Sesuai dengan keyakinan masyarakat Bali yang sebagian besar beragama Hindu ini. Kentalnya kehidupan religius masyarakat Bali dapat dilihat dengan banyaknya pura dan tempat sesaji yang hampir ada di tiap rumah adat Bali. Hal tersebut mengambarkan kedekatan masyarakat Bali dengan para Dewa yang ditunjukkan dengan maraknya berbagai acara adat dan peribadatan yang dilakukan masyarakat. Masyarakat Bali memiliki ikatan spiritual yang kuat tidak hanya dengan para Dewa, tetapi juga kedekatan dengan alam, sehingga alam sebagai sumber kehidupan mutlak harus dijaga kelestariannya.
Julukan Pulau Dewata untuk Bali, tentu tidak muncul tanpa alasan. Sebutan ini erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Bali yang sangat kental dengan nilai-nilai religius, spiritual, dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam keseharian, masyarakat Bali menjadikan ajaran agama Hindu sebagai landasan utama dalam menjalani kehidupan, sehingga hampir setiap aktivitas selalu memiliki makna sakral dan berkaitan dengan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
“Untuk menjaga keseimbangan alam, bahkan beberapa tempat di Bali dikeramatkan, sehingga tidak semua orang boleh memasukinya. Aturan adat sedemikian dijaga dan dipatuhi oleh warga masyarakat Bali dan para pendatang. Kondisi ini yang kemudian menjadikan Bali juga dikenal sebagai pulau yang sangat suci.” ungkap Ketut Wijanarka,selaku warga asli Pulau ini.
Dalam adat masyarakat Bali yang 87% beragama Hindu mengakui adanya konsep Dewa Nawa Sanga. Masyarakat percaya ada sembilan dewa utama yang menjaga sembilan arah mata angin di Bali untuk menjaga keseimbangan alam.
Keindahan alam Pulau Bali juga mendukung penyematan julukan Bali sebagai Pulau Dewata. Gunung, pantai, sawah terasering, serta hutan yang masih asri memberikan suasana yang seolah-olah mendekatkan manusia dengan alam dan kekuatan Illahi. Harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan yang dikenal dengan konsep Tri Hita Karana menjadi filosofi hidup masyarakat Bali. Konsep ini menekankan pentingnya keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan sesama (pawongan), dan manusia dengan lingkungan (palemahan).
Budaya Bali yang unik dan penuh nilai estetika juga turut memperkuat identitasnya sebagai Pulau Dewata. Seni tari, musik gamelan, seni ukir, hingga arsitektur tradisional Bali memiliki ciri khas yang sarat dengan simbol-simbol religius. Setiap gerakan tari, ukiran, maupun bangunan pura mengandung makna filosofis yang berkaitan dengan ajaran agama Hindu. Hal ini menunjukkan bahwa keindahan seni di Bali tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga merupakan bentuk persembahan kepada para dewa. (red-SMANSaKu/Pak RT)