Kategori : BERITA Dipublish pada tanggal 22/12/2024 21:02:39 WIB
SMANSaKuNews. Peringatan hari Ibu, tanggal 22 Desember 2024 di SMA Negeri 1 Kutowinangun terasa spesial. Petugas upacara yang biasanya dari siswa, kali ini petugas upacara berasal dari guru, khususnya Bapak-bapak. Hal ini untuk menunjukkan apresiasi nyata kaum Adam kepada sosok perempuan yang bernama “Ibu”
Sosok seorang Ibu menjadi sangat istimewa, ketika kita semua merenung, bahwa dari ibulah Kita semua bisa berada muka bumi ini. Karena ibu kita dilahirkan, diasuh, dididik dan dijaga sampai saat ini sehingga menjadi manusia yang sehat dan mandiri. Tak ada keberhasilan tanpa peran dan doa dari seorang Ibu. Begitu pula dalam Islam, sosok seorang Ibu begitu dimuliakan sebagai sosok yang harus kita hormati, kita jaga dan tempat kita berbakti.
Peringatan hari Ibu ke 96 tahun ini dilakukan dengan upacara Bendera dengan mmengenakan seragam adat Jawa dan mengangkat tema Perempuan Menyapa, Perempuan Berdaya Menuju Indonesia Emas 2045. Sementara petugas upacara semua dari Bapak guru. Sebagai pembawa Acara Bpk. Pawit, Pemimpin Upacara diperankan Bpk Maghfur Afandi, dirigen Teguh Riyanto, Pengiring Rachmat Hendriyato, Pengibar Bendera Feris Kurniyawan, Damar Purnasiwi dan Aris Nugroho, Pembaca Teks UUD 1945 Bpk Suratno, Pembawa Naskah Pancasila dan sambutan Bpk. Wahyu Dwi Sutanto, Pengatur Upacara Ari Kurniawan, Pemimpin Pleton masing-masing bpk Joni Purnomo, Pujiono dan Pembaca Doa Bpk. Puput Rahmat Saputra. Bpk Apriyoko tampil sebagai pembaca Puisi khsus bertemakan Hari Ibu.
Tampil sebagai Pembina Upacara, Bapak Lukman Hakim, S.Sos, Plt Kasubag TU SMA Negeri 1 Kutowinangun. Dalam amanatnya, Bapak Lukman membacakan amanat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) yang intinya
“Bangsa ini dibangun dari pondasi perjuangan para perempuan yang tak pernah lekang semangatnya untuk mencapai sebuah kehidupan yang lebih baik bagi generasi penerus.
Tak terbilang lagi pahlawan perempuan yang namanya tetap harum hingga kini dan menjadi inspirasi bagi kita semua. RA Kartini, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Nyi Ageng Serang, Martha Christina Tiahahu, Rasuna Said, Laksamana Malahayati dan masih banyak lagi.
Salah satu titik penting perjuangan pergerakan perempuan di masa pra kemerdekaan dan menjadi tonggak sejarah tersendiri adalah ketika diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia Pertama pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta.
Momentum bersejarah ini kemudian ditetapkan sebagai hari nasional pada tahun 1959 oleh Presiden Sukarno, yang dinamakan Hari Ibu. Inilah yang membedakan Hari Ibu di Indonesia dengan peringatan "Mother's Day" di beberapa negara dunia”
Melalui peringatan Hari IBu inilah, kita kembali diingatkan akan pentingnya peran perempuan dalam mencapai tujuan-tujuan bangsa. Di era kekinian, peringatan Hari Ibu diharapkan dapat mewariskan nilai-nilai luhur dan semangat perjuangan yang terkandung dalam sejarah perjuangan kaum perempuan kepada seluruh masyarakat Indonesia, terutama generasi penerus bangsa, agar mempertebal tekad dan semangat untuk bersama-sama melanjutkan dan mengisi pembangunan dengan dilandasi semangat persatuan dan kesatuan. Pak Lukman juga mengingatkan segenap peserta untuk senantiasa berbakti kepada orang tua, khususnya Ibu. (red-SMANSaKu)