SMANSAKUTO

Mengenal Kesenian Tradisional Kuda Lumping/Ebleg

Kategori : BERITA   Dipublish pada tanggal 24/04/2025 13:01:30 WIB

#
BERITA 24/04/2025 13:01:30 WIB Dilihat 51583 kali

Mengenal Kesenian Tradisional Kuda Lumping/Ebleg

Kuda lumping atau kuda kepang, yang dalam bahasa setempat disebut juga jaran kepang, jaranan, atau jathilan, adalah tarian tradisional yang berasal dari Jawa, khususnya Ponorogo, Jawa Timur. Di beberapa tempat kuda lumping disebut dengan ebeg atau ebleg. Kata “lumping” diambil dari bahasa Jawa yang artinya kuda tiruan. Sedangkan “eblek” artinya anyaman bambu atau kepang. Di dalam tarian ini menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda buatan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang), yang dibentuk menyerupai kuda, dengan berbagai ornamennya, sehingga disebut dengan kuda kepang.

Tarian Kuda Lumping ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu  atau bahan lainnya yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda, dengan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang di gelung atau di kepang. Selain dihiasi dengan rambut tiruan dari bahan ijuk, anyaman kepang juga dicat beraneka warna dan diberi hiasan manik-manik yang biasanya terbuat dari biji penjalin.

Tarian kuda lumping menggambarkan adegan heroik prajurit berkuda, dengan iringan musik gamelan sederhana (gong), kendang dan terompet. Tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.

Makna Tari Kuda Lumping sebuah pertunjukan untuk yang menggambarkan semangat perjuangan dan simbol perlawanan pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah Belanda. Atraksi tari Kuda Lumping juga dimanfaatkan sebagai bentuk perlawanan non militer terhadap pasukan Belanda.

Untuk memeriahkan penampilannya, tarian kuda lumping biasanya ada yang menyuguhkan atraksi-atraksi dengan menaikki palang segi empat yang terbuat dari bambu, atraksi kesurupan, aksi kekebalan terhadap senjata tajam, dan kekuatan magis lainnya, seperti atraksi memakan beling/kaca dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut atau senjata tajam lainnya.

Tarian kuda lumping di Jawa Tengah dan Yogyakarta juga cukup populer. Khususnya di Kebumen, ada sekitar 95 group kuda lumping yang masih eksis. Bahkan Kebumen pernah menciptakan kuda lumping terbesar se-Indonesia untuk Hari Jadi Kebumen.

Saat pertunjukkan kuda lumping, selain disediakan beberapa sejaji, para pemain juga didampingi oleh seorang pawang. Pawang inilah yang bertanggung jawab atas kelancaran jalannya pertunjukan, mengatur persiapan, dan memastikan semua aspek pertunjukan berjalan lancar. Dalam pertunjukan Ebeg, pawang juga memiliki peran penting dalam menjaga dan memulihkan para pemain/penonton yang mengalami kesurupan. Pawang juga memastikan kebutuhan sesaji yang dibutuhkan.

Di wilayah Kebumen, tarian jarang kepang juga dilengkapi dengan munculnya sosok “barongan” yang menggambarkan makhluk yang menyeramkan dan penthul sebagai tokoh komedian. Pertunjukkan tarian ini biasanya dilakukaan saat acara hajatan, atau beberapa peringatan hari besar atau ritual bumi. (red-SMANSaKu-Pak RT/disarikan dari berbagai sumber)

SMANSAKUTO

Berita Lainnya