SMANSAKUTO

Film Budaya `Tedhak Siten`

Kategori : BERITA   Dipublish pada tanggal 22/11/2024 12:40:21 WIB

#
BERITA 22/11/2024 12:40:21 WIB Dilihat 397 kali

Film Budaya `Tedhak Siten`

Berita SMANSaKu. Tedhak Siten merupakan tradisi menginjakkan atau menapakan kaki ke tanah bagi seorang anak. Tedhak Siten merupakan rangkaian prosesi adat Jawa, yang sekarang sudah mulai jarang dilaksanakan. Tedhak Siten berasal dari kata Tedhak yang berarti turun (menapakkan kaki) dan Siten atau Siti yang artinya tanah atau bumi yang kita pijak. Jadi tradisi Tedhak Siten merupakan upacara adat bagi anak yang akan turun ke tanah untuk pertama kali, atau disebut juga mudhun lemah atau unduhan. Masyarakat beranggapan bahwa tanah, bumi yang dipijak adalah tempat kehidupan dan yang akan memberi penghidupan. Upacara Tedhak Siten berlangsung saat anak berusia 7 lapan kalendar jawa atau 8 bulan kalender masehi. Dalam usia tersebut biasanya anak mulai memasuki masa belajar berjalan sehingga inilah momen awal anak mulai menapakan kakinya ke tanah.

Tradisi Tedhak Siten diangkat sebagai tema Video pendek yang digarap siswa-siswi kelas X/Fase E-9. Dalam video tersebut digambarkan seorang bayi perempuan bernama Rahma yang baru saja menginjakkan kaki ke tanah ini, melalui upacara adat Tedhak Siten. Dalam prosesi adat istiadat tersebut, bayi Rahma disuruh memilih berbagai jenis barang yang disediakan sebagai simbol doa orang tua kepda anaknya. Barang pilihan tersebut biasanya berupa uang, batik, selendang tari, cermin, buku tulis, perhiasan, beras, mainan, dll

Bayi Rahma yang berada di kurungan dibiarkan memilih aneka barang, tersebut, dan ternyata Rahma memilih 'Selendang Tari' yang merupakan simbol, bahwa suatu saat Rahma akan tumbuh besar menjadi penari yang sukses. saat dia sudah. Bayi mungil yang mulai beranjak besar, hobi dan bakat Rahma, mulai tampak suka dengan tari. Rahma mulai menekuni hobinya dengan mengikuti latihan tari di sanggar terdekat di rumahnya, bersama 2 teman sebayanya.

Seringnya latihan bersama, persahabatan Rahma dengan 2 teman semakin akrab, namun sekaligus menjadi awal kisah pilunya persahatan mereka. Bakat menari Rahma, membuat iri kedua teman, dan kedua teman inilah yang sering menggunjing dan menebar fitnah yang membuat hubungan mereka renggang. Rahma merasa sock dan tidak nyaman, tidak ada semangat lagi untuk melanjutkan latihan tari.

Rakhma mulai bimbang ketika di daerahnya ada kompetisi lomba tari. Semangat menarinya mulai bangkit, namun satu sisi Rahma mengingat kenangan dan perlakuan buruk kedua temannya. Rahma memberanikan diri mengikuti tahapan seleksi lomba, dengan giat mengikuti latihan tari kembali. Kedua teman berlatihnya ternyata juga mengikuti kompetisi tari yang sama, sehingga harus bertemu lagi untuk latihan bersama. Sikap kedua temannya ternyata masih sama, bahkan makin menjadi. Ketika latihan bersama, Rahma memukulnya dengan selendang tari. Namun perlakuan temanya tidak membuat Rahma patah semangat. Rahma sudah bertekad bulat untuk memenangkan kompetisi dan menunjukkan pada temannya itu

Peristiwa pada “tedhak siten” menjadi motivasi bagi Rahma untuk membuktikan dan mewujudkan harapan orang tua. 'Tetel putih' yang pernah diinjaknya, juga menjadi pertanda dirinya harus menjadi pribadi yang kuat dan memiliki rasa percaya diri.

Rahma akhirnya dinyatakan lolos seleksi dan memenangkan lomba kompetisi tari di daerahnya. Sementara kedua temannya gagal mengikuti seleksi dan harus kandas dalam kompetisi itu. Rakhma pun kembali menemukan rasa percaya diri kembali. Kondisi berbalik arah, jika saat latihan Rahma yang mengalami frustasi, sekarang kondisi itu dialami kedua temannya. Rahma berusaha mendekat dan menghibur kedua temannya yang pernah menyakitinya. Akhirnya ketiganya saling meminta maaf, mengingatkan masa kecilnya yang pernah bermain dan berlatih bersama.

Tradisi Tedhak Siten selain sebagai kegiatan pelestarian budaya tetapi juga merupakan serangkaian kegiatan yang menyimbolkan bimbingan orang tua kepada anaknya dalam meniti kehidupan melalui serangkaian prosesi dan ubarampe yang digunakan. Dalam kegiatan Tedhak Siten perlu dipersiapkan Uba Rampe atau perlengkapan, sebagi simbol doa dan harapan orang tua. Sinopsis tedhaksiten juga memberi pelajaran bagi kita, bahwa sikap iri dan dengki justru akan menghancurkan harapannya sendiri. (red-SMANSaKu-disarikan dari Vodeo Pendek “Tedhak Siten” sbg Juara-2 lomba video pendek bertema Kebudayaan)

SMANSAKUTO

Berita Lainnya