Kategori : BERITA Dipublish pada tanggal 07/11/2024 09:14:31 WIB
SMANSaKuNews. Seperti sebuah prasasti yang bisa menjadi benda bersejarah, bukti peradaban masa lalu. Lorong besi, bermahkota aneka bunga terompet dan buah markisa menjadi penyejuk dan ornamen lorong sepanjang 60 m ini. Seperti namanya, LORONG CINTA, berharap siapapun yang melewati lorong ini tumbuh rasa “cinta kasih” kepada sesama warga sekolah dan cinta kepada tanaman dan cinta pada lingkungan sekolah dengan segala habita yang ada didalamnya. Kecintaan kepada lingkungan sekolah yang dapat ditunjukkan dengan tidak merusak tatanan dan keindahan yang sudah ada, tetapi sedapat mungkin merawat dan memperbaiki tatanan yang sudah ada agar cerita dibalik sebuah kisah tidak punah.
Menurut Teguh Riyanto, S.Kom, yang dulu pernah memprakarsai program Adiwiyata dan mengantarkan SMA Negeri 1 Kutowinangun menjadi sekolah Adiwiyata Nasional, menuturkan “Lorong sepanjang sekitar 60 m yang dibangun di era Kepala Sekolah Bpk Waluyo WIdodo, S.Pd, M.M dengan dana dukungan Wali Siswa, dan menjadi salah satu komponen penilaian dalam Adiwiyata, khususnya lahan yang tidak menggunakan selasar tanah/tanaman. Pembangunan lorong dilakukan dalam 2 tahap,.sebagai upaya menjaga kerindangan dan keindahan sekolah guna menunjang dan mewujudkan sekolah Adiwiyata. Lorong cinta tidak hanya berfungsi sebagai rumah jalan, ketika guru menuju ruang kelas, tetapi lebih jauh lorong ini mengandung makna filosifis, siapapun yang melewati lorong ini senantiasa tumbuh rasa cintanya. Cinta guru kepada siswa-siswinya, siswa kepada gurunya, pimpinan dengan anak buahnya, cinta sesama guru, dan cinta sesama warga sekolah” tuturnya kepda Jurnalis SMANSaKu.
Seiring berjalannya waktu, lorong yang terbuat dari besi dan dibangun sekitar 8 tahun silam, saat ini kondisinya kurang terawat, besi mulai berkarat, cat mulai pudar, tanaman sebagian mati dan belum dilakukan penggantian, termasuk lampu-lampu hias yang terpasang sepanjang lorong.
Butuh membangkitkan kembali “rasa cinta” yang tersisa di lorong ini, cinta dengan lingkungan sekitarnya, cinta kepada sejarah, melalui kepedulian warga sekolah, termasuk dukungan anggaran untuk kembali mempercantik lorong ini, agar dapat kembali bersinar memberikan kesan rindang, sejuk dan indah yang mencerminkan karakter sekolah ini, dalam lorong keindahan meskipun dengan segala perbedaannya, semua saling bergotong royong, kerjasama, bahu membahu, dengan balutan rasa cinta dan kebersamaan.
Hal tersebut tergambar juga gotong royong membawa sound sistem ke GOR Arungbinang, juga dalam dalang memberikan layanan terbaik kepada warga sekolah, khususnya siswa kelas X dan XII yang tengah melaksanakan Program P-5.(red-SMANSaKu)