Kategori : ARTIKEL Dipublish pada tanggal 28/12/2024 08:51:29 WIB
SMANSaKuNews. Tidak semua orang tahu, siapa sangka di tanah Jawa, khususnya di Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, terdapat seorang pendekar wanita yang tangguh dan pemberani bernama Raden Ayu Tan Peng Nio. Warga keturunan Tionghoa, ia memiliki kisah yang menginspirasi banyak orang.
Memang tidak banyak yang mengenal Tan Peng Nio sebagai sosok prajurit perempuan legendaris ini, sebab kemunculannya selalu menyamar sebagai seorang prajurit laki-laki. Tan Peng Nio lahir dari keluarga Jenderal Tan Wan Swee, yang pernah memberontak melawan Kaisar Qian Long dari Dinasti Qing. Setelah pemberontakan gagal, Tan Peng Nio diamanatkan kepada sahabat ayahnya, Lia Beeng Goe, seorang ahli pembuat peti mati dan bela diri. Bersama Lia Beeng Goe, Tan Peng Nio melarikan diri ke Singapura dan kemudian ke Sunda Kalapa (kini Jakarta).
Pada tahun 1740, terjadi huru-hara yang dikenal sebagai Geger Pecinan, di mana etnis Tionghoa menghadapi pembantaian oleh tentara VOC Belanda. Tan Peng Nio dan Lia Beeng Goe mengungsi ke arah timur hingga tiba di Kutowinangun (Kebumen, Jawa Tengah). Di sana, mereka bertemu dengan Kiai Honggoyudho, seorang ahli pembuat senjata.
Tumenggung Honggoyudho berusaha menyembunyikan kehadiran mereka. Secara diam-diam Tumenggung Honggoyudho juga melatih mereka ilmu kanuragan sebagai bekal dalam menghadapi peperangan
Pada tahun 1741, K.R.A.T. Kolopaking II melatih para pemuda-pemuda untuk dijadikan sebagai prajurit perang. Tidak sedikit pula pemuda dari Cina yang turut berlatih sebagai prajurit di sana. Tumenggung Honggoyudho mengajak Tan Peng Nio untuk bergabung bersama prajurit yang bernama Panjer Roma. Tan Peng Nio bak tokoh di film Mulan, dia menyamar sebagai prajurit laki-laki dan ikut berlatih dengan prajurit lainnya.
Prajurit-prajurit tersebut, tak terkecuali Tan Peng Nio, kemudian dikirim ke Mataram untuk membantu prajurit Pangeran Garendi berperang melawan Penjajah Belanda. Prajurit dari Panjer Roma dipimpin oleh R. Soleman Kertawangsa, anak sulung K.R.A.T. Kolopaking II.
Selama 16 tahun (1741-1757), Tan Peng Nio bergabung dengan pasukan bentukan KRAT Kolopaking II yang dikirim untuk membantu pasukan Pangeran Garendi dalam perang melawan Belanda. Ketangguhannya dalam pertempuran menjadi legenda. Selama peperangan, Tan Peng Nio selalu menyamar sebagai prajurit laki-laki.
Namun takdir berbicara lain, suaminya KRT Kolopaking III (Bupati Panjer kala itu, sebelum menjadi Kebumen) gugur dalam pertempuran. Tan Peng Nio tetap berjuang, memimpin pasukan Jawa dan menunjukkan keberanian di medan laga. Perang berakhir dengan perundingan Giyanti pada 13 Februari 1755.
Setelah perang usai, Tan Peng Nio menetap di Kutowinangun, Kebumen, Jawa Tengah. Dari pernikahannya, dia memiliki dua anak : KRT Endang Kertawangsa dan RA Mulat Ningrum. Makamnya yang berbentuk bangunan Tionghoa berdiri di Desa Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kebumen, Jateng. Raden Ayu Tan Peng Nio, “Mulan van Java,” tetap dikenang sebagai pahlawan wanita yang berjuang melawan penindasan dan ketidakadilan Belanda.. (red-SMANSaKu-Pak RT-disarikan dari berbagai sumber)