SMANSAKUTO

Era Post Truth dan Dampaknya pada Literasi Digital

Kategori : ARTIKEL   Dipublish pada tanggal 20/01/2025 21:44:25 WIB

#
ARTIKEL 20/01/2025 21:44:25 WIB Dilihat 2544 kali

Era Post Truth dan Dampaknya pada Literasi Digital

SMANSaKuNews. Keberadaan teknologi informasi dalam kehidupan manusia seolah sudah menjadi “kebutuhan pokok” perkembangan media sosial sungguh mampu mengubah kehidupan sosial masyarakat kita, bahkan sebagaian mampu mengubah gaya hidup beberapa lapisan masyarakat. Dalam dunia yang semakin dipenuhi oleh informasi digital, istilah post truth menjadi relevan untuk menggambarkan fenomena sosial di mana fakta objektif sering diabaikan dan digantikan oleh keyakinan emosional atau preferensi pribadi. Istilah ini mendapat perhatian luas ketika pada tahun 2016, Oxford Dictionaries menobatkannya sebagai Word of the Year. Fenomena post truth menunjukkan bagaimana opini publik tidak lagi terbentuk oleh fakta-fakta ilmiah atau data yang terverifikasi, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh emosi dan kepercayaan subjektif.

Dalam era post truth, fakta-fakta objektif sering kali disingkirkan/diabaikan, sementara informasi yang lebih menonjolkan emosi dan memperkuat keyakinan yang sudah ada lebih mudah diterima. Fenomena ini dipicu oleh bias kognitif yang membuat individu cenderung hanya menerima informasi yang sesuai dengan pandangan mereka. Media sosial, dengan algoritma yang menyesuaikan konten berdasarkan preferensi pengguna, memperkuat hal ini dengan menciptakan ruang gema atau echo chamber, di mana seseorang hanya melihat suatu informasi dari sudut pandangnya secara subyektif, yang makin memperkuat keyakinannya, bahkan mampu menumbuhkan sikap ego dan arogan

Salah satu fenomena yang memperkuat era post truth adalah maraknya fake news atau berita palsu (hoax). Informasi yang tidak akurat atau sengaja disesatkan ini sering kali dibuat untuk memicu reaksi emosional, menyebarkan kepanikan, atau mengejar tujuan politik tertentu agar mampu membangun opini publik. Dengan begitu banyaknya informasi yang beredar melalui jejaring sosial, sulit bagi masyarakat untuk memilah mana informasi yang benar dan mana yang hanya sekadar hoaks atau disinformasi. Hal ini menjadi semakin kompleks ketika informasi yang salah tersebut terus tersebar di media sosial tanpa adanya verifikasi yang memadai, yang nyaris tanpa filter dan sensor.

Era post truth juga ditandai dengan peningkatan polarisasi masyarakat terhadap suatu issu atau informasi. Orang-orang semakin terpisah dalam kelompok-kelompok yang hanya mengonsumsi informasi yang sejalan dengan keyakinan mereka sendiri, menghindari informasi yang berbeda atau bertentangan. Akibatnya, ruang publik digital menjadi terpecah belah dan sulit untuk mencapai konsensus tentang isu-isu penting. (red-SMANSaKu-Pak RT/disarikan dari berbagai sumber)

SMANSAKUTO

Berita Lainnya