Kategori : ARTIKEL Dipublish pada tanggal 03/01/2025 13:13:38 WIB
SMANSaKuNews. Sepertinya sudah menjadi hal yang biasa, ketika negara berganti kepemimpinan, biasanya akan dibarengi dengan berbagai program/kebijakan baru melalui para pembantunya (Menteri), termasuk di bidang pendidikan. Wacana pergantian Kurikulum Merdeka dengan model Deep Learing semakin santer dibicarakan publik. Lantas, apa arti Deep Learning dan perbedaan dengan Machine Learning?
Gagasan perubahan model kurikulum di Indonesia diisyaratkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Beliau memberi sinyal bakal mengkaji ulang Kurikulum Merdeka yang saat ini tengah berlaku dan mengarahkan model deep learning. Tidak hanya itu, pak Menteri juga mewacanakan adanya kenaikan tunjangan guru, pembenahan administrasi guru, mekanisme Jabatan Kepala Sekolah, pembenahan PPPK, PPG, dll.
“Deep learning itu bukan kurikulum. Deep learning itu pendekatan belajar, termasul ful-full juga bukan kurikulum. Deep learning itu bisa diterapkan baik di sekolah-sekolah yang menerapkan kurikulum K-13” ujar Ujar Pak Menteri.
Deep learning dirancang dalam rangka meningkatkan pemahaman siswa melalui pendekatan yang lebih mendalam dan fokus pada keterlibatan aktif para peserta didik
Jika diaplikasikan dalam kurikulum pembelajaran, maka contoh Kurikulum Deep Learning dapat dipantau sesuai penggabungan tiga elemen yang mencakup Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyfull Learning.
Pada elemen Mindful Learning, para guru akan memperhatikan keunikan para siswa, termasuk potensi dan kebutuhan masing-masing yang berbeda.
Misalnya ketika masuk dalam materi tentang panas. Maka para siswa nantinya diajak untuk bereksperimen, baik di laboratorium dengan melihat bagaimana panas atau kalor terbentuk dan fungsi panas dalam kehidupan sehari-hari.
Kemudian elemen Meaningful Learning. Para siswa diajak memahami alasan di balik setiap materi pelajaran yang dipelajari dan pentingnya pelajaran itu bagi kehidupan di dunia nyata kelak.
Terakhir adalah elemen Joyfull Learning. Metode ini menjadi pendekatan pembelajaran yang tidak sekadar mengedepankan hal-hal yang menyenangkan dalam pembelajaran. Namun juga mengutamakan pemikiran yang mendalam dari para siswa terhadap setiap materi pembelajaran yang diajarkan.
Senada dengan Pak Menteri, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, mengatakan bahwa di dalam metode joyful learning bukan hanya siswa saja yang harus gembira dalam belajar, melainkan juga para guru.
“Penting bagaimana menciptakan pembelajaran itu menyenangkan. Jangan sampai ketika datang ke sekolah, siswa menjadi tidak senang. Untuk itulah, sekarang diperkenalkan deep learning[pembelajaran yang mendalam] yang antara lain metodenya harus joyful learning, harus gembira,” katanya.
“Nanti akan dikenalkan metode pembelajaran yang menyenangkan untuk semua pembelajaran. Jadi, di sekolah, siswa harus menikmati semua pelajaran untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas,” ujar Atip
Saat ini konsep pembelajaran dengan deep learning telah selesai dikaji, namun begitu, belum ada kepastian tentang waktu pemberlakuannya. (red-SMANSaKu-disarikan dari beberapa sumber)