SMANSAKUTO

Guru Sebenarnya Sudah Menerapkan Pembelajaran Mendalam

Kategori : ARTIKEL   Dipublish pada tanggal 15/11/2025 20:02:38 WIB

#
ARTIKEL 15/11/2025 20:02:38 WIB Dilihat 2487 kali

Guru Sebenarnya Sudah Menerapkan Pembelajaran Mendalam

SMANSaKu. Rasanya belum selesai beradaptasi dan implementasi pada kurikulum merdeka, dengan pergantian menteri pendidikan yang baru, memunculkan jargon baru “deep learning” Katanya bukan Kurikulum, hanya sebuah pendekatan pembelajaran. Mendengar istilah pembelajaran mendalam (deep learning) terasa asing dan merasa hal baru yang harus segera beradaptasi, karena proses pembelajaran berjalan secara berkesinambungan. Apalagi bagi guru selaku motor dalam pembelajaran, maka harus secepatnya memahami istilah tersebut serta harus segera mengaplikasikannya. Apalagi bagi orang awam atau siswa, gurupun harus segera melakukan adaptasi secara cepat.

Padahal, jika kita cermati isi dari deep learning, banyak guru sebenarnya sudah melakukannya sejak lama, hanya saja belum tahu namanya atau belum muncul istilah deep learning/pembelajaran mendalam. Jika kita cermati lebih dalam, maka sebenarnya esensi pembelajaran mendalam sudah banyak di terapkan saat guru mengajar selama ini. Pada deep learning kemudia dikenal dengan Pengalaman Belajar Pembelajaran Mendalam, yang terdiri dari taksonomi : memahami, mengaplikasi dan merefleksi (3M)

1. Memahami, bukan sekedar menghafal

Pembelajaran mendalam menekankan pada pemahaman konsep, bukan sekadar mengingat isi buku. Kalau selama ini kita meminta murid menjelaskan kembali dengan kata-kata sendiri, membuat kesimpulan, atau mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, berarti kita sudah melakukan pembelajaran mendalam tanpa sadar.

2. Mengaplikasi, mengaitkan pelajaran dengan kehidupan nyata

Ketika guru mengajak murid mengamati lingkungan, melakukan percobaan, membuat sebuah karya, menyelesaikan masalah baik secara individu ataupun kelompok, sebenarnya guru telah membawa para muridnya untuk menerapkan/mengalikasikan materi yang telah diberikan. Para murid diberi kesempatan untuk mencari solusi dari pengalaman mereka sendiri, sehingga proses belajar jadi lebih bermakna. Itulah inti pembelajaran mendalam, ilmu yang tidak berhenti di kelas, tapi hidup dalam kehidupan nyata, di lingkungannya.

3. Merefleksi, melakukan umpan balik

Sekarang dikenal dengan asesmen, rubrik atau sekedar menyampaikan pendapatnya/tanggapan terkait pembelajaran yang dilakukan. Tujuan refleksi adalah umpan balik dari murid. Tentu guru selalu melakukan refleksi dalam bentuk tertulis melalui tes sumatif atau formatif, angket atau menanyakan kesulitan yang dihadapi para muridnya, serta manfaat apa yang diperoleh dari pembelajaran.

Selain 3 Pengalaman Belajar tersebut, guru juga sudah mengimplementasikan 3 Prinsip Pembelajaran, yaitu Bermakna (mindfull), Berkesadaran (meaningfull) dan Menggembirakan (joyfull)

1. Bermakna (mindfull)

Guru selalu membangun suasana belajar yang tenang dan kondusif, mengajak para murid berkonsentrasi. Guru meminta murid untuk benar-benar menyadari apa yang mereka pelajari, termasuk tujuannya, sehingga apa yang dipejari memiliki makna untuk dirinya.  

2. Berkesadaran (meaningfull)

Prinsip Pembelajaran ini berfokus menghubungkan materi baru dengan pengetahuan dan pengalaman siswa yang sudah ada, sehingga mereka benar-benar memahami, bukan hanya menghafal. Guru biasanya menerapkan metoda diskusi atau eksperimen langsung pembuatan, proyek kolaboratif, atau melaukan studi kasus tentang suatu pokok masalah. Menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk artikel, juga bagian dari pembelajaran yang bermakna

3. Menggembirakan (joyfull)

Guru selalu berupaya menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan/menggembirakan. Upaya menciptakan suasana yang menggembirakan yang biasa ditempuh guru misalnya dengan pemanfaatan quiz interaktif, mengamati video, membuat projek atau melakukan ice breaking agar senantiasa suasana pembelajaran yang interaktif.

Selain itu guru juga selalu menanamkan nilai dan sikap positif, menyentuh sisi karakter. Ketika guru mengingatkan tentang aturan dan tata tertib sekolah, mendorong murid untuk selalu berani mencoba, tidak mudah menyerah, dan menghargai pendapat orang lain (diskusi), maka yang diajarkan bukan hanya pelajaran, tapi juga nilai kehidupan, yang sekarang dikenal dengan 8 Dimensi Profil Lulusan (DPL), yang terdiri dari keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. 

Guru tetap menjadi sosok penting yang menyalakan obor semangat, menumbuhkan rasa ingin tahu dan tidak takut dengan kegagalan. Guru tidak perlu merasa tertinggal dengan pembelajaran mendalam, tapi justru patut bangga, karena selama ini kita sebenarnya sudah di jalur yang benar. Karena sejatinya, pembelajaran mendalam bukan sekadar metode baru, tapi pengakuan atas ketulusan guru yang selalu berusaha membuat belajar menjadi bermakna. (red-SMANSaKu/Pak RT)

 

SMANSAKUTO

Berita Lainnya