Kategori : ARTIKEL Dipublish pada tanggal 29/10/2025 20:12:14 WIB
SMANSaKuNews. Wurung dalam bahasa Indonesia artinya tidak jadi, gagal atau batal. Ya, cerita Gunung Wurung berkembang di kalangan masyarakat Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, yang merupakan kawasan geopark Nasional. Di Karangsambung terdapat sebuah bukit yang menurut cerita masyarakat setempat, merupakan gunung yang tidak selesai (gagal) dibangun oleh para dewa, karena terdapat seorang gadis tidak sengaja melihat proses pembangunan sehingga membuatnya pembuatan gunung tdak selesai atau batal.
Cerita ini kemudian diangkat dalam lomba “Dongeng Bahasa Ibu, oleh Bilan Aisyah Putri Ahmad, Finnegan Pashbriza Chanindratama dan Diana Rosalia Sekar Pambayun, perwakilan kelas X/E-4 yang digelar di GOR Aroengbinang SMA Negeri 1 Kutowinangun, tadi siang.
Cerita bermula ketika masyarakat di Kawasan Karangsambung ingin dibuatkan gunung sebagai salah satu sumber mata air dan perkebunan. Saat itu, para sesepuh desa memohon kepada para dewa untuk dibuatkan sebuah gunung. Doa para sesepuh desa tersebut kemudian dikabulkan oleh para dewa, dengan syarat, ketika proses pembuatan gunung tersebut tidak oleh ada orang yang melihatnya. Semua warga desa harus masuk ke dalam rumah dan tidak boleh keluar rumah sampai pembuatan gunung selesai. Proses pembangunan gunung dilakukan selama satu malam saja.
Para sesepuh kemudian mengumpulkan warga desa dan menyampaikan perihal persyaratan tersebut dan semua warga menyetujui persyaratan tersebut. Tiba saatnya malam pembangunan gunung, semua warga bersepakat untuk masuk ke rumah dan tidak ada satupun yang keluar. Menjelang pagi, sebelum matahari bersinar, proses pembuatan gunung nyaris selesai.
Tanpa diduga, ada seorang gadis yang tidak mengetahui ada proses pembuatan gunung tersebut. Seperti biasanya, gadis ini di pagi hari keluar rumah untuk menuju ke sungai mengambil air dan mencuci beras untuk dimasak. Saat tengah berjalan di tepi sungai, betapa kagetnya gadis ini melihat gundukan tanah yang sebelumnya tidak ada. Rasa kagetnya semakin menjadi ketika, di sekitar gunung ada sosok raksasa tinggi besar yang membawa batu untuk membangun gunung tersebut. Gadis itu kemudian berlari ketakutan sambil berteriak minta tolong. Beras yang dibawa gadis tersebutpun tumpah sepanjang pelariannya dan konon butiran-butiran beras tersebut berubah menjadi bebatuan gunung.
Seketika itu, proses pembangunan gunung berhenti dan akhirnya para Dewa pergi meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai dan kembali ke khayangan. Para Dewa menganggap warga desa telah melanggar perjanjian yang telah disepakati. Sejak saat itu, gunung tanpa puncak tersebut dikenal dengan sebutan “Gunung Wurung” yang berarti gunung yang belum selesai dibangun.
Secara geologis, sebenarnya Gunung Wurung terbentuk dari batuan beku hasil intrusi magma yang membeku dan sering disebut juga Gunung Parang, dengan bebatuan diabas. Karena bentuk dan warnanya seperti beras, maka dikaitkan dengan cerita beras tumpah yang dibawa oleh seorang gadis letika kaget melihat bangunan bukit oleh para dewa.
Cerita inipun terus mengalir secara turun temurun dan diyakini sebagai cerita yang dipercaya kebenarannya oleh masyarakat. (red-SMANSaKu-disarikan naskah Lomba Dongeng Bahasa Ibu-Perwakilan Kelas X/E-4)