Kategori : ARTIKEL Dipublish pada tanggal 31/08/2026 21:52:33 WIB
SMANSaKu. Malam 22 Agustus 2026, suasana Alun-Alun Kebumen tampak berbeda dari biasanya. Ribuan masyarakat dari berbagai penjuru Kebumen tampak memenuhi kawasan alun-alun Pancasila Kebumen yang datang untuk menyaksikan pertunjukan sendratari The Tales of Karang Bolong. Sorotan lampu, iringan musik, serta gerak para penari berpadu menjadi sebuah pertunjukkan yang memanjakan ribuan penonton. Antusiasme masyarakat pun terlihat begitu besar, sehingga kawasan alun-alun Pancasila Kebumen tampak berubah seperti “lautan manusia”. Tak hanya masyarakat umum, sejumlah tokoh penting turut hadir, termasuk Bupati Kebumen. Pertunjukan sendratari kolosal tersebut menjadi salah satu acara inti yang membuat malam itu semakin meriah sekaligus menjadi ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan keterlibatannya dalam pelestarian seni dan budaya daerah.
The Tales of Karang Bolong mengangkat kisah Pangeran Surti yang berusaha mencari penangkal untuk menyembuhkan ibunya yang terkena teluh dari buto. Cerita tersebut kemudian dikemas dalam bentuk sendratari dengan melibatkan peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMA/SMK, perguruan tinggi, hingga beberapa elemen masyarakat. Keberagaman peserta membuat pertunjukan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi wadah pertemuan berbagai generasi dalam sebuah karya seni pertunjukan tradisional.
Beberapa orang murid SMA Negeri 1 Kutowinangun (SMANSAKU) turut mengambil bagian dalam pementasan tersebut. Sebelum tampil, para murid harus melalui proses seleksi dengan mempelajari materi tari yang telah diberikan. Penilaian dilakukan berdasarkan penguasaan materi, ekspresi, serta power dalam membawakan gerakan. Setelah dinyatakan lolos, para murid menjalani latihan secara rutin selama kurang lebih dua hingga tiga minggu, dimulai sejak 10 Agustus 2026. Proses latihan dibimbing oleh tim Swargaloka dari Jakarta serta tim pelatih dari Kebumen.
Dalam pementasan tersebut, murid SMANSAKU mendapatkan berbagai peran yang terbagi ke dalam beberapa kelompok, seperti rakyat, prajurit, buto, lampor, lawet, hingga teluh. Di antaranya terdapat Ita sebagai rakyat, Abi sebagai prajurit, serta Bellaarik yang berperan sebagai lampor. Sementara itu, Nadila Navania berperan sebagai rakyat, Ratih sebagai teluh, Quinsha sebagai lawet, dan Edelin Aqila Putri sebagai buto. Pembagian karakter tersebut membuat setiap peserta memiliki tanggung jawab untuk memahami peran dan alur cerita agar gerakan yang ditampilkan dapat selaras dengan pesan pertunjukan.
Bagi Wahyu Kurniaratih Mustika Putri dari kelas X.E9 yang berperan sebagai teluh, salah satu tantangan terbesar selama latihan adalah menghafalkan koreografi. Gerakan yang diberikan terasa cukup asing baginya sehingga membutuhkan latihan dan keseriusan agar dapat dikuasai. Meski demikian, ia mengaku proses latihan tetap terasa menyenangkan karena para peserta dan pelatih bersikap profesional. Kekompakan antarpenari juga terus dibangun melalui latihan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, pemahaman terhadap alur cerita menjadi hal penting agar setiap penari mampu menghayati karakter yang diperankan.
Keikutsertaan dalam The Tales of Karang Bolong memberikan pengalaman baru bagi para murid Smansaku. Bellaarik mengungkapkan bahwa kesempatan bertemu dengan tim profesional dari Jakarta dan menjalani latihan hingga malam menjadi pengalaman yang berkesan. Setelah berhasil tampil, rasa senang dan puas pun dirasakan karena proses panjang latihan akhirnya dapat diwujudkan dalam sebuah pertunjukan di hadapan masyarakat. Kegiatan ini juga diharapkan dapat membuat The Tales of Karang Bolong semakin dikenal luas serta mendorong lebih banyak murid Smansaku untuk terlibat dalam kegiatan seni budaya di masa mendatang. Bagi Bapak Wahyu, kegiatan semacam ini penting bagi generasi muda karena mengenal budaya sendiri merupakan langkah awal untuk ikut menjaga dan melestarikannya. (red-SMANSaKu/Intan)