Kategori : ARTIKEL Dipublish pada tanggal 04/12/2024 22:26:14 WIB
SMANSaKuNews. Salah satu bukti peradaban sejarah dan saksi bisu perjalanan Bangsa Indoensia yang pernah menjadi Negara jajahan negara Barat, adalah sisa-sisa bangunan peninggalan penjajah. Dari sekian penjajah, Belanda lah yang paling banyak meninggalkan jejak berupa aneka jenis bangunan, yang sebagian masih dimanfaatkan sampai saat ini. Betapa tidak, Belanda menapakkan kakakinya di Indonesia selama 3,5 abad, atau 350 tahun. Tentu bisa dibayangkan warna negara Belanda dan keturunannya telah menyatu dengan Bumi Nusantara. Beberapa bangunan kantor, rumah dinas, waduk, kantor PLN, Kereta api, Kantor POS, kantor Bank, Benteng, jembatan, dll sebagian besar adalah warisan kolonial Belanda, dan masih berdiri kokoh dan dimanfaatkan sampai saat ini. Tak heran, karena Belanda merupakan negara dengan kemampuan di bidang arsitektur kebih maju dibanding negara lain, sehingga kualitas bangunan tidak diragukan lagi.
Bangunan arsitektur era kolonial yang cukup besar juga masih dapat dijumpai seperti Lawang Sewu di Semarang, Gedung Bank Indonesia di Yogyakarta, Gereja Katedral di Jakarta, Gereja Blenduk di Semarang, Benteng Van der Wijh, di Gombong dan lainnya. Saat memasuki bangunan khas Belanda tersebut, pengunjung akan merasakan hawa sejuk dan nyaman.
Ternyata jika kita cermati, bangunan-bangunan gedung peninggalan Belanda yang bergaya Indis ternyata memiliki kesamaan dalam kontruksinya, seperti dindingnya tebal, banyaknya pintu, jendela dan lubang angin, bentuknya tinggi, atapnya berbentuk kerucut/limasan. Semua ini mendukung lancarnya sirkulasi udara dari luar dan dalam rumah. Kontruksi ini ternyata sudah dipertimbangan untuk kontruksi bangunan di daerah tropis, meskipun Belanda sendiri merupakan negara daerah dingin
Selain itu orang Belanda banyak menggunakan warna-warna natural dan soft, tidak mencolok, seperti warna putih atau krem untuk dinding, warna abu-abu untuk kusen. Penggunaan batu bata untuk dinding yang cukup tebal dan lantainya menggunakan ubin atau traso yang juga memiliki kemampuan menyerap panas dari udara. Maka tak bisa terelakkan rumah kuno bekas peninggalan Belanda lebih awet dan udaranya dingin, meskipun tanpa kipas atau pendingin ruangan.
Begitu juga kketinggian plafon yang relatif tinggi, yang memungkinkan sirkulasi udara lebih leluasa
Sebagian orang yang belum pernah mengkaji bangunan Belanda ini, justru malah mengaitkan hawa dingin rumah kuno ini dengan hal yang bersifat mistis atau horor. Namun apabila dibedah lebih teliti, terdapat sejumlah alasan ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan, mengapa bangunan arsitektur lawas cenderung lebih dingin dan sejuk.
Hal tersebut juga diperkuat dengan penjelasan akademisi Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Ashar Saputra, PhD mengatakan, terdapat sejumlah alasan mengapa bangunan era Belanda bisa terasa sejuk. Hal itu menurut Ashar dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya adalah unsur-unsur yang ada dalam bangunan tersebut. Mulai dari dinding, atap, hingga lantainya. Biasanya bangunan Belanda menggunakan pasangan bata dinding yang tebal. Batu bata yang tebal pada dinding secara teori itu akan meredam panas dari luar. Faktor lain yang berpengaruh yakni bangunan Belanda menggunakan sudut atap yang tinggi, lebih dari 50 derajat. Hal ini membuat ruang udara di bawah atap mampu meredam panas dari atap, sehingga kondisi di bawahnya tetap sejuk. Lalu masih dilengkapi dengan sistem sirkulasi udara di atap yang baik, sehingga ruang udara di bawah atap selalu dingin. Tak hanya itu, tinggi tembok bangunan Belanda juga menyebabkan udara ruangan lebih sejuk dan lebih dingin. (Suratno-SMANSaKu/disarikan dari berbagai sumber)