Kategori : ARTIKEL Dipublish pada tanggal 15/12/2024 12:01:22 WIB
SMANSaKuNews. Keris adalah senjata tradisional Indonesia yang memiliki bentuk dan fungsi yang khas: Keris memiliki bentuk yang asimetris, dengan bilah yang miring terhadap pangkalnya. Keris juga memiliki ujung yang lancip dan tajam, serta bilah yang berkelok-kelok. Keris memiliki banyak fungsi, di antaranya sebagai senjata tradisional, pusaka warisan nenek moyang, dan simbol bagi masyarakat Jawa. Selain sebagai senjata tradisonal, keris memiliki makna simbolis dan filosofis, seperti lambang kekuatan, keberanian, spiritualitas, dan kebijaksanaan.
Keris juga dianggap sebagai simbol bersatunya manusia dengan Tuhannya.
Keris diduga sudah dikenal di pulau Jawa sejak abad ke-6 atau ke-7. Nama keris berasal dari kata dalam bahasa Jawa kuno, yaitu 'keri,' yang bermakna potongan atau irisan. Senjata khas Jawa ini sering dipakai sebagai kelengkapan pakaian adat Jawa.
Penempatan pemakaian keris ternyata juga memiliki makna filosofi. Pada umumnya, keris dikenakan di punggung (belakan) sebagai penanda bahwa negara sedang berada di masa damai. Selain itu, penempatan keris di punggung juga dalam rangka menghilangkan sikap ancaman pada siapa pun, simbol menghormati orang lain, khususnya tamu atau rajanya. Dengan diletakkan di bagian belakang juga karena faktor kenyamanan, sebab zaman dahulu kala, mereka yang akan menghadap raja harus berjalan jongkok atau yang dikenal dengan "mbebek", dengan demikian prosesi mbebek lebih nyaman.
Filosofi lain yang diajarkan leluhur bahwa membawa keris di belakang tubuh adalah pantang bagi orang Jawa untuk menunjukkan kesaktiannya. Cara lain mengenakan keris adalah di depan, artinya menggambarkan situasi sedang tidak aman dan menggambarkan si pemakai keris tengah melakukan perlawanan. Dengan posisi keris di depan, juga menggambarkan kondisi siaga, artinya orang tersebut sudah siap mati dalam membela apa yang dipercaya dan dimiliki. Sebagaimana yang dilakukan Pangeran Diponegoro yang senantiasa menaruh kerisnya di depan dalam menghadapi Belanda. Hal tersebut menunjukkan bahwa Pangeran Diponegoro sedang melawan penjajahan Belanda .
Di era kerajaan seorang prajurit yang, meletakkan keris di belakang merupakan simbol kepatuhan kawula terhadap rajanya. Sedangkan meletakan keris di depan artinya sedang menunjukkan sikap perlawanan, bahkan dianggap memberontak kepada raja.
Di masa modern dan damai seperti saat ini, orang orang Jawa menggunakan keris bertujuan sebagai kelengkapan busana upacara kebesaran, acara adat, acara seni budaya atau saat temu pengantin. Terkadang keris dihiasi dengan untaian bunga mawar melati yang dikalungkan pada hulu batang keris dengan filosofi, melambangkan pembawa keris tidak memiliki watak beringas, emosional, pemarah, adigang-adigung-adiguna, sewenang-wenang dan mau menangnya sendiri.
Dalam tradisi Jawa, keris merupakan salah satu dari lima benda yang harus dimiliki oleh laki laki dewasa, sebagai simbol kemapanan
“Lima prakara kanggo jaka mardhika yaiku : garwa, wisma,turangga, curiga lan kukila" (lima hal untuk lelaki sejati adalah : rumah, istri, kuda, senjata dan burung “
Saat ini, di era milenial keberadaan keris telah digantikan oleh perangkat yang lebih sakti seperti smartphone, laptop, ballpoint parker yang dengan tanda tangan ditorehkan bisa menghasilkan miliaran rupiah, mengucurkan pinjaman bank, atau bisa mengubah nasib banyak orang, mengantarkan ke sel penjara, membebaskan dari tahanan, lolos di imigrasi, atau membunuh orang .
Namun apapun canggihnya, kita tetap wajib berbangga, memiliki warisan budaya yang mahakarya leluhur, keris ini. Dengan menjaga budaya juga salah satu bukti nyata kita mencintai bangsa, (red-SMANSaKu-Pak RT-disarikan dari berbagai sumber)