Kategori : ARTIKEL Dipublish pada tanggal 30/12/2024 08:53:14 WIB
SMANSaKuNews. Pangeran Diponegoro, sang pahlawan nasional yang dikenal gigih melawan penjajahan Belanda dalam, perang Jawa 1825-1830. Pangeran Diponegoro selalu ditemani dengan dengan seekor kuda hitam perkasa bernama Kyai Gentayu. Kuda ini tidak hanya istimewa karena kekuatannya, tetapi juga karena ciri khasnya ujung keempat kakinya berwarna putih, seolah menjadi simbol keberanian. Kyai Gentayu adalah hadiah istimewa yang diberikan kepada Pangeran Diponegoro saat beliau dikhitan, dibeli dari seorang pedagang Tiongkok yang sering memasok kebutuhan keraton.
Kemampuan Pangeran Diponegoro, yang merupakan Putra Sri Sultan Hamengkubuwono III dalam menunggang kuda memang luar biasa. Cucu kesayangan Sultan Mangkubumi yang telah diramalkan oleh sang kakek, satu hari nanti akan memusingkan pemerintah Hindia Belanda ini di kemudian hari lebih dikenal dengan Pangeran Diponegoro.
Di kediamannya di Tegalrejo, ia memelihara lebih dari 60 kuda sebelum perang. Keahliannya ini menjadi senjata ampuh saat bertempur di medan perang. Dengan Kyai Gentayu, ia kerap berhasil meloloskan diri dari kepungan musuh, bahkan di medan sulit seperti saat menyeberangi Kali Progo. Kecepatan dan kegesitan Kyai Gentayu menjadikannya mitra setia sang pangeran dalam perjuangan. Kyai Gentayu bukan sekadar kuda perang; ia adalah bagian dari jejak sejarah dn legenda perjuangan Pangeran Diponegoro yang cukup menginspirasi bangsa hingga kini. Sebuah pasangan memang harus memiliki chemistry dan kekompakan dalam bertindak, saling mendukung dan saling melengkapi. Sepertinya Pangeran Diponegoro dan Kyai Gentayu memiliki hubungan batin yang cukup erat. Setelah berperang, pangeran selalu menyempatkan mengusap kepala Gentayu, sambil mengucapkan terima kasih. Nama Gentayu yang disematkan kuda hitam ini artinya Burung Jatayu.
Gentayu terpisah dengan sang majikan, ketika Sang Pangeran ditawan Belanda dan diasingkan di berbagai tempat. Sejak saat itu Gentayu dan Majikannya tidak pernah bertemu lagi, sampai akhir hayatnya.
Pangeran Diponegoro yang mempunya nama asli Raden Mas Ontowiryo, selanjutnya dimakamkan di Makassar karena ia berhasil ditawan oleh Belanda dan diasingkan ke Manado. Setelah diasingkan di Manado, Pangeran Diponegoro dipindahkan ke Benteng Rotterdam yang berada di Makassar, Sulawesi Selatan. Setelah dipindahkan ke Makassar, kemudian Pangeran Diponegoro menjalani masa pengasingannya hingga wafat. Dengan demikian, Pangeran Diponegoro dimakamkan di Kompleks Kampung Jawa yang berada di Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, Makassar, Sulawesi Selatan. Jiwa patriotisme, kegigihan membela NKRI Pangeran Diponegoro patut menjadi tauladan seluruh generasi bangsa. Kebesaran nama DIponegoro diabadikan menjadi nama Universitas terkemuka di Jawa Tengah, Universitas DIponegoro (UNDIP) di Semarang (red-Pak RT/disarikan dari berbagai sumber)