SMANSAKUTO

Mengenal Sejarah dari Tempat Bersejarah

Kategori : ARTIKEL   Dipublish pada tanggal 16/05/2026 23:43:54 WIB

#
ARTIKEL 16/05/2026 23:43:54 WIB Dilihat 296 kali

Mengenal Sejarah dari Tempat Bersejarah

ArtikelSMANSaKu. Sejarah Kabupaten Kebumen, tidak bisa dilepaskan dari salah satu nama wilayah di Kebumen, yakni Kecamatan Ambal. Kecamatan Ambal menyimpan banyak jejak sejarah sebelum Kabupaten Kebumen berdiri. Sebagai kota tua, Kecmatan Ambal juga tidak bisa dilepaskan dengan kuliner legendaris khas Kebumen yaitu Sate Ambal.

Dengan luas 60,4 km2, kecamatan Ambal juga dikenal sebagai Kecamatan dengan jumlah desa terbanyak, yaitu 32 Desa. Siapa sangka, wilayah ini dahulu setelah perang Diponegoro sekitar tahun 1828, wilayah ini merupakan pusat pemerintahan, sehingga didirikan Kadipaten Ambal dan Kepatihan Ambal.

Melalui pelajaran sejarah yang diampu Bapak Pujiono, S.Pd, para murid mendapat tugas membuat film pendek sejarah. Kecamatan Ambal menjadi salah satu tempat favorit yang dipilih, mengingat tempat ini menyimpan sejarah masa lalu. Para murid tampak antusias, dihinggapi rasa penasaran, untuk memastikan apakah cerita dalam sejarah benar-benar dapat dibuktikan dengan bukti sejarah dilapangan. Beberapa murid tampak sibuk  membawa seperangkat alat rekam, seperti kamera, tripod, lighting dan clapper untuk membuat sebuah film yang bertemakan perjuangan di masa sebelum Proklamasi Kemerdekaan. Layaknya dalam sebuah porses pembuatan film, dengan memakai berbagai kostum adat Jawa lawas, mereka kemudian memainkan perannya masing-masing sebagai para actor dalam film.

Mereka merupakan siswa Kelas XI FD 1 SMAN 1 Kutowinangun yang tengah mengerjakan tugas untuk membuat Film Sejarah. Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari (14-15 Mei 2026) dengan koordinator ananda Serly Arum Lestari selaku Sutradara dan turut di hadiri guru pendamping, Bapak Pujiono, S.Pd selaku Guru Pengampu Mata Pelajaran Sejarah.

“Pembuatan Film Sejarah merupakan salah satu bentuk pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning). Metode ini dipilih untuk mengubah paradigma pembelajaran sejarah yang sering dianggap hafalan menjadi pengalaman yang mendalam, kolaboratif, dan menyenangkan”, ungkap guru sejarah yang akrab dipanggil Pak Puji ini.  

Siswa diberikan kebebasan untuk menentukan tema dan latar waktu film yang akan diproduksi, namun tetap dibatasi oleh rentang waktu Masa Pergerakan Nasional hingga Masa Pendudukan Jepang, sesuai dengan Materi di Semester ini. Setelah melakukan proses riset, Siswa kelas XI FD 1 memutuskan mengambil latar belakang waktu peristiwa sekitar Proklamasi. Dilanjutkan pembuatan naskah, kemudian menentukan lokasi pengambilan gambar yang sesuai dengan cerita yang akan diprosuksi.

Setelah melalui survei ke beberapa lokasi akhirnya di putuskan 2 tempat yang paling sesuai yakni di Rumah Kadipaten Ambal dan Kepatihan Ambal yang beralamat di Jalan Purbonegoro, Desa Ambalresmi, Kecamatan Ambal Kebumen.

“Dua tempat tersebut dipilih karena sesuai dengan tema film, memiliki ciri-ciri rumah pada sekitar tahun 1900-an dan masih sangat terjaga keasliannya”, Ungkap ananda Serly selaku Sutradara dalam roses pembuatan film ini. 

Dua Lokasi yang digunakan untuk kegiatan pengambilan gambar, yaitu Rumah Kadipaten dan Kepatihan Ambal merupakan 2 tempat bersejarah di Kabupaten Kebumen yang masih dirawat dan menjadi saksi sejarah peradaban di Kebumen, yang berdiri pada masa pemerintahan K.R.A.H. Poerbanagara yang menjabat pada tahun 1828-1872.

Kadipaten Ambal mulai berakhir kala Bupati K. R. A. H. Poerbanagara meninggal dunia pada tanggal 7 Maret 1871. Hingga benar-benar berakhir pada tahun 1872 dengan dibaginya wilayah Bagelen menjadi tiga, yakni Kabupaten Kutoarjo (yang sekarang menjadi Kecamatan Kutoarjo) Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Karanganyar (yang sekarang menjadi Kecamatan Karanganyar) 

“Meskipun peradaban sejarah sudah cukup lama, namun jejak peninggalan Kadipaten Ambal masih dengan mudah kita temui di lingkungan Kecamatan Ambal, dan masih terawat”  hal tersebut diungkapkan oleh salah satu pegiat Budaya dan Sejarah Bapak Among Prasetyo, yang juga turut hadir pada saat kegiatan pengambilan gambar.

“Struktur tata ruang kota Catur Gatra yang menjadi ciri turunan Kerajaan Mataram juga masih bisa di temui di Ambal” ungkap pria yang juga berprofesi sebagai Dalang.

Hingga kini peninggalan Kadipatan Ambal masih dilestarikan melalui berbagai kegiatan positif, diantaranya melalui rangkaian kegiatan “Manggon Ambal” yang bertujuan untuk menggali dan merayakan potensi sejarah dan kearifan lokal. (red-SMANSaKu/Puji)

 

 

SMANSAKUTO

Berita Lainnya