SMANSAKUTO

Mengenang Tragedi 30 September 1965

Kategori : ARTIKEL   Dipublish pada tanggal 30/09/2024 09:41:56 WIB

#
ARTIKEL 30/09/2024 09:41:56 WIB Dilihat 1176 kali

Mengenang Tragedi 30 September 1965

SMANSaKu. Gerakan 30 September atau lebih dikenal sebagai peristiwa G30S PKI masih sangat melekat di benak masyarakat. G30S PKI merupakan peristiwa penculikan serta pembunuhan 6 jenderal dan 1 perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) di Jakarta dalam waktu satu malam. Peristiwa G30S PKI merupakan peristiwa berdarah yang terjadi mulai 30 September malam hingga 1 Oktober 1965 dini hari.

Dalam peristiwa ini, ada 7 pahlawan revolusi yang terdiri dari enam jenderal dan satu perwira pertama TNI AD yang menjadi korban peristiwa berdarah tersebut.

Berikut ini 7 pahlawan revolusi yang menjadi korban G30S PKI lengkap dengan biografinya yang dirangkum dari berbagai sumber :.

1. Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani

Jenderal Anumerta Ahmad Yani adalah petinggi TNI AD di masa Orde Lama. Ia lahir pada 19 Juni 1922 di Purworejo, Jawa Tengah.

Ahmad Yani juga merupakan salah satu siswa yang mengikuti pendidikan di Heiho di Magelang dan Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor.

Pada 1948, Ahmad Yani turut serta dalam pemberantasan PKI Madiun, Agresi Militer Belanda II dan penumpasan DI/TII di Jawa Tengah.

Pada 1958, dirinya diangkat sebagai Komandan Komando Operasi 17 Agustus di Padang, Sumatera Barat, untuk menumpas pemberontakan PRRI. Kemudian, ia diangkat sebagai Kepala Staff Angkatan Darat (KSAD) di tahun 1962.

2. Letjen (Anumerta) S. Parman

Letjen Anumerta S. Parman lahir pada 4 Agustus 1918 di Wonosobo, Jawa Tengah. Ia merupakan salah satu petinggi TNI AD di masa Orde Lama. Pendidikannya lebih berkutat dengan bidang intelijen.

Memiliki keahlian di bidang intelijen, S. Parman bisa mengetahui rencana-rencana PKI yang ingin membentuk angkatan kelima.

Semasa hidup, S. Parman pernah mengenyam pendidikan di Amerika Serikat pada 1951.

Ia pernah menjadi Kepa Staf Markas Besar Polisi Tentara di Yogyakarta (1945), Kepala Saf Gubernur Militer Jakarta Raya

3. Letjen (Anumerta) R. Suprapto

Letjen Anumerta R. Suprapto lahir pada 20 Juni 1920 di Purwokerto, Jawa Tengah. Pada masa pemerintahan Jepang di Indonesia, R Suprapto pernah ditawan dan dimasukkan ke dalam penjara, namun ia berhasil kabur.

Karier R. Suprapto makin melejit di militer. Namun, ketika PKI mengajukan pembentukan angkatan perang kelima, Suprapto menolak. Hingga ia pun menjadi salah satu korban peristiwa G30S PKI.

Jabatan terakhir sebelum ia meninggal adalah Kepala Staf Angkatan Darat untuk wilayah Sumatera.

4. Mayjen (Anumerta) D.I Pandjaitan

Mayjen Anumerta Donald Isaac Pandjaitan atau D.I Pandjaitan lahir pada 9 Juni 1925 di Balige, Sumatera Utara. Dirinya merupakan sosok yang gemar musik klasik dan penganus protestan yang taat.

Saat masa pemerintahan Jepang, ia memasuki pendidikan militer di Gyugun. Lalu, ia ditempatkan di Pekanbaru, Riau sampai proklamasi kemerdekaan. Setelah Indonesia merdeka, D.I Pandjaitan ikut membentuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

5. Mayjen (Anumerta) Sutoyo Siswomihardjo

Mayjen Anumerta Sutoyo Siswomihardjo lahir pada 23 Agustus 1922 di Kebumen, Jawa Tengah.

Ia merupakan seorang pahlawan revolusi dan tokoh militer. Sebelum menjadi TNI, ia sempat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kantor Kabupaten Purworejo, namun berhenti secara terhormat pada 1944.

Namun, dirinya harus gugur dalam peristiwa G30S PKI karena menentang pembentukan angkatan kelima.

6. Letjen (Anumerta) M.T. Haryono

Letjen Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono alias M.T. Haryono lahir pada 20 Januari 1924 di Surabaya, Jawa Timur.

M.T. Haryono menguasai empat bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Inggris, Jerman dan Belanda. Berkat kemampuannya itu, ia sering dibutuhkan saat perundingan dengan pihak Belanda maupun Inggris.

7. Kapten (Anumerta) Pierre Tendean

Pierre Andries Tendean lahir pada 21 Februari 1939 di Jakarta. Di umur 26 tahun, dirinya sudah menjadi seorang perwira militer Indonesia.

Pierre Tendean mengawali karirnya di dunia militer degan menjadi intelijen dan kemudian ditunjuk sebagai Ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution atau A.H. Nasution.

Di malam peristiwa G30S PKI, Pierre Tendean merupakan korban ‘salah tangkap’ para Tjakrabirawa. Dirinya mengaku sebagai A.H Nasution dan mengorbankan nyawanya demi melindungi sang jenderal. (red-SMANSaKu)

SMANSAKUTO

Berita Lainnya