Kategori : Kombel Dipublish pada tanggal 23/12/2025 00:30:10 WIB
SMANSaKuNews. “Menyikapi ciri-ciri generasi Z yang tak tahan bekerja dalam tekanan, ketergantungan pada gaget, sikap individualisme yang tinggi, mudah bosan maka diperlukan proses pembelajaran mendalam yang dilakukan oleh guru-guru yang berani nyleneh dalam hal positif (positif deferens), yaitu guru yang berani menghadapi tantangan dan mencoba-hal-hal yang baru, sehingga mampu mengubah suasana belajar yang menyenangkan, tidak membosankan. Bukan guru yang biasa-biasa saja.” ungkap Muhammad Ali Sodikin selaku narasumber pada seminar bertajuk “Penguatan Etos Kerja Guru dalam Menyingsong Pembelajaran Mendalam”
Seminar yang diselenggarakan oleh Kombel Digdaya ini digelar di GOR Aroengbinang, yang diikuti oleh Bapak/Ibu Guru SMA Negeri 1 Kutowinangun, dan dibuka langsung oleh Kepala Sekolah, Budiono, S.Si, M.Pd.
M Ali Sodikin merupakan Fasilitator Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Provinsi Jawa Tengah, yang sudah banyak pengalaman di berbagai wilayah Indonesia ini, membagikan pengalamannya dalam mengelola kelas, berbagai model pembelajaran yang pernah ia terapkan di sekolah, agar pembelajaran guru lebih menyenangkan.
Menurutnya “kita harus berani melakukan Human Reset Education. Harus kita akui, bahwa paradigma pendidikan kita saat ini belum banyak mengalamiperubahan seperti yang diharapkan oleh Tokoh pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara. Pendidikan harus mencakup olah rasa,olah pikir,olah raga dan olah laku, sehingga pembelajaran lebih bermakna. Lihat saja bentuk tempat duduk masih sama, materi kurikulum merdeka, tertapi belum merdeka dalam memilih materi yang sesuai dengan kebutuhan anak, anak masih dibebani dengan soal dan tugas, bukan permasalahan nyata yang memungkinkan siswa menemukan solusi pemecahan masalah, pemberian apresiasi hanya pada siswa yang berprestasi, tidak pada siswa yang melakukan aksi kebaikan, dll” ungkapnya
Dalam kesempatan tersebut, Ali Sodikin juga memberikan beberapa game dengan peralatan serdehana yang menggambarkan terjadinya asosiasi cara berfikir yang komplek terhadap satu permasalahan, sehingga memberikan dampak dan respon yang berbeda-beda ketika disampaikan ke siswa.
Keterlibatan orang tua, alumni dan para praktisi/pelaku usaha dalam kegiatan pembelajaran, akan membantu para murid kita untuk menumbuhkan kesadaran ini terkait dengan materi pelajaran yang akan dipelajari. Endidikan diilustrasikan seperti pohon, dimana akar-akar pohon adalah suatu pondasi yang harus kuat dibangun yang mampu menopang batang, ranting dan daun, yaitu karakter. Jika akarnya busuk, maka seluruh bagian tumbuhan akan busuk dan mati.
Sampai acara selesai, semua peserta cukup antusias mengikuti kegiatan seminar ini sampai selesai, yang dilaksanakan seusai peringatan hari Ibu, 22 Desember 2025. (red-SMANSaKu/Kombel Digdaya)