Kategori : Kombel Dipublish pada tanggal 18/02/2025 13:27:36 WIB
SMANSaKuNews. “Tahun 2024 banyak perusahaan yang memberhentikan tenaga kerjanya, yang umumnya berasal dari Genrasi Z, yang mencapai angka 60%. Generasi Z adalah tenaga kerja yang lahir antara rentang waktu 1997-2012. Mereka dianggap memiliki motivasi dan inovasi yang kurang dalam bekerja. Selain itu, banyak dari generasi Z yang belum memiliki skill yang cukup dibutuhkan oleh perusahaan dan kurangnya bisa bekerjasama dengan tim atau lingkungan kerja” jelas Ibu Trisni Atmawati, S.Si, M.Si sebagai narasumber dalam Seminar Pendidikan yang diselenggarakan Kombel Digdaya SMA Negeri 1 Kutowinangun yang diselenggarakan di ruang Multi Media, pada Selasa 18 Pebruari 2025.
Era Pemerintahan Prabowo, malah pengangguran menjadi masalah yang sangat serius. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 9,9 juta penduduk Indonesia berusia 15 sampai 24 tahun (Generasi Z) yang menganggur pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan masalah serius dalam transisi generasi muda ke dunia pendidikan tinggi dan pasar kerja.
Menurut Bu Trisni, yang juga Kepala SMA Negeri 1 Buluspesantren, “Saat ini program Menteri yang baru adalah penguatan Deep Learning dalam pembelajaran. Program ini sebenarnya sudah pernah diterapkan di lembaga pendidikan di era taun 80an. Saat ini konsep pembelajaran deep learning (pembelajaran mendalam) dianggap tepat digunakan dalam pembelajaran saat ini, yang berfokus pada pengembangan kompetensi dan ketrampilan abad 21 untuk membekali siswa menyongsong masa depannya. Pembelajaran harus mendalam, siswa harus tahu manfaat materi yang akan diajarkan dalam kehidupan sehari-hari” imbuhnya
Senada dengan Bu Trisni, Kepala SMA Negeri 1 Kutowinangun, Ibu Tri Lestari A, S.Pd yang membuka secara resmi Seminar Pendidikan ini juga menambahkan pentingnya pembelajaran “joinfull learning” pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran harus fokus, sehingga pembelajaran lebih bermakna “Mean full Learning”. Seminar diikuti oleh Bapak/Ibu Guru SMA Negeri 1 Kutowinangun.
Bahwa menurut Bu Trisni, “Tantangan pendidikan saat ini adalah rendahnya motivasi dan daya juang siswa. Pembelajaran deep learning terdiri dari 3 konsep belajar pembelajaran yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful) yang diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang memiliki 8 profil kelulusan pembelajaran deep learning yaitu Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME, Kewargaan, Penalaran Kritis, Kreatifitas, Kolaborasi, Mandiri, Kesehatan dan Komunikasi” imbuhnya
Agar bisa mencapai pembelajaran dengan konsep deep learning, guru di era saat ini juga harus memiliki kompetensi publik speaking, choacing dan NLP (Neuro Linguistic Programming) atau Pemrosesan Bahasa Alami tubuh. (red-SMANSaKu-Kombel Digdaya)