SMANSAKUTO

H. Slamet : Pengusaha Jas Hujan Terbesar di Kebumen

Kategori : P-5   Dipublish pada tanggal 14/02/2025 19:14:29 WIB

#
P-5 14/02/2025 19:14:29 WIB Dilihat 3284 kali

H. Slamet : Pengusaha Jas Hujan Terbesar di Kebumen

SMANSaKuNews. Nyaris tidak percaya, di kampung dan pegunungan terpencil di Desa Tanahsari, Kec. Kebumen, menjadi sentra industri jas hujan yang produknya saat ini digunakan di seluruh Indonesia dan menempati best seller di lapak online Shopee. Masyarakat Desa Tanahsari , sebagian besar mengembangkan usaha jas hujan. Bahkan banyak pekerja luar daerah masuk ke Tanahsari sebagai pekerja., salah satunya usaha yang dikelola H. Slamet Bahrudin atau akrab dipanggil H. Slamet, yang cukup besar di Kebumen

Slamet, pemuda Tanahsari setelah lulus dari MAN kemudian merantau ke Jakarta sebagai buruh pabrik. Pernah nganggur selama 3 tahun, setelah pulang merantau di Jakarta selama 3 tahun, bingung mau kerja apa lagi. Slamet kemudian memutar otak untuk merintis usaha tas gendong atau ransel untuk anak sekolah, yang dipasarkan di sekitar wilayah Kutowinangun. Usahanya mulai membuahkan hasil. Sedikit-demi sedikit keuntunganya dapat dikumpulkan untuk membangun rumah, yang saat itu masih berstatus single. Meskipun produksinya masih terbatas, dan pemasaran masih konvensional, namun usahanya lumayan berkembang dengan bertambahnya pesanan tas. Untuk mengembangkan usahanya, pria kelahiran Tanahsari Kebumen ini mulai merambah pinjaman bank untuk menambah modal. Untung tak dapat diraih, pinjaman yang nilainya ratusan juta bukan menambah besar usahanya, tetapi justru malah kolap. Rumah dan tanah yang ditempatinya nyaris mau disita bank, karena angsurannya macet.

“Modal saya habis, hampir tiap hari dept collector datang menagih hutang dan mau menyita tanah dan rumah saya. Nyaris putus asa, usahanya bangkrut, hutang bank ditagih, dan terjadi Covids juga di tahun 2020. Tetapi alhamdulillah, saat pandemi Covids-19 waktu itu,  justru membawa berkah tersendiri. Saya mendapat pesanan APD (Alat Pelindung Diri) dari RS Purworejo, dengan keuntungan yang lumayan besar. Sebab saat itu RSU Purworejo memberikan harga 90 ribu per potong, asal dapat dikerjakan cepat, sementara biaya produksi hanya sekitar 33 ribu. Keuntungan tersebut saya jadikan modal kembali, dan alhamdulillah pesanan APD dari berbagai instansi terus berdatangan. Keuntungannya sebagian untuk menyelesaian hutang di bank” ungkap pria Alumni MAN 1 Kebumen ini.

Usaha Slamet mulai bangkit. Dari masa pandemi itulah dia kemudian belajar secara autodidak bagaimana menawarkan produknya secara online, sementara berjualan secara langsung tidak memungkinkan. Setelah masa pandemi, Slamet kemudian merambah produk jas hujan dengan Brand AKULA dan MASELA (yang diambil dari akronim namanya, Mas Slamet) yang mulai dipasarkan secara online, bahkan merambah ke lapak Shopee. Usaha berkembang cukup pesat, dengan jangkauan pasar makin luas. Sampai saat ini, karyawannya bisa memproduksi hampir 4.000 pcs jas hujan tiap harinya dengan dibantu oleh sekitar 40 orang tenaga packing dan 300 an penjahit yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Kebumen.

Produk Jas hujan AKULA saat ini telah menjadi best seller di pasar online yang konsumennya tersebar di seluruh Indonesia, dan paling banyak di wilayah Jawa Barat dan Jakarta Pusat. Bahkan di tahun 2024 total penjualan mendekati setengah juta pcs.

“Saat ini kami memiliki sekitar 60 reseller yang tersebar di seluruh wilayah, khususnya wilayah Jawa Barat dan Jakarta Pusat, dengan omset penjualan per hari mencapai 120 juta atau penjualan produk yang mencapai 4.000 potong per hari” imbuhnya

Slamet berpesan kepada para siswa kelas XI/FD yang berkunjung dan melakukan riset ke tempat usaha dalam rangka kegiatan P-5 dengan tema Kewirausahaan, agar tekun membangun usaha sendiri, tidak menggantungkan pada orang lain.

Teguh Riyanto, S.Kom yang mendampingi para siswa melakukan survey dan riset usaha itu, juga menekankan pada para siswa “Profil usaha jas hujan yang digeluti Pak H Slamet, memberikan ilustrasi bahwa untuk membangun usaha tidak harus memiliki lahan yang luas dan berada di kota, tidak harus memiliki produk sendiri dan tidak harus memiliki modal yang besar” tegasnya (red-SMANSaKu-P-5)

SMANSAKUTO

Berita Lainnya