SMANSAKUTO

Kokurikuler : Ajak Murid Belajar Budidaya Tanaman Pangan dengan Memanfaatkan Lahan Sekolah

Kategori : Kokurikuler   Dipublish pada tanggal 06/11/2026 21:15:26 WIB

#
Kokurikuler 06/11/2026 21:15:26 WIB Dilihat 10 kali

Kokurikuler : Ajak Murid Belajar Budidaya Tanaman Pangan dengan Memanfaatkan Lahan Sekolah

SMANSaKuNews. Pemanfaatan halaman sekolah untuk budidaya tanaman pangan merupakan salah satu upaya nyata dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menumbuhkan kepedulian murid terhadap lingkungan. Lahan sekolah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dapat diubah menjadi area produktif dengan menanam berbagai tanaman pangan, seperti cabai, tomat, terong, kangkung, bayam, sawi, dan tanaman produktif lainnya. Kegiatan ini tidak hanya memperindah lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang menghubungkan pengetahuan dengan praktik kehidupan sehari-hari.

Dari aspek biologi, kegiatan bercocok tanam memberikan pengalaman langsung kepada murid untuk memahami proses pertumbuhan tanaman, fotosintesis, perkembangbiakan, kebutuhan nutrisi, serta interaksi antarmakhluk hidup dalam ekosistem. Dari aspek ekonomi, tanaman yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan warga sekolah atau dijual sehingga memiliki nilai tambah dan melatih jiwa kewirausahaan. Dari aspek ketahanan pangan, keberadaan tanaman sayuran dan tanaman produktif di lingkungan sekolah menjadi contoh kemandirian dalam menyediakan sebagian kebutuhan pangan yang sehat, segar, dan mudah diperoleh.

Dari aspek keseimbangan lingkungan, tanaman berperan menghasilkan oksigen, menyerap karbon dioksida, menjaga kelembapan, mengurangi suhu lingkungan, serta menjadi habitat bagi berbagai organisme yang mendukung keanekaragaman hayati.

Tema kegiatan kokurikuler kali ini berfokus pada dunia pertanian dan lingkungan, dengan melatih murid melakukan berbagai tanaman pangan/tanaman produktif di area lahan sekitar ruang kelas masing-masing.  Sekolah dengan lahan yang cukup luas, masih menyisakan lahan kosong di beberapa tempat yang dapat dimanfaatkan untuk menanam tanaman produktif.

Setiap kelas telah diberi kapling lahan untuk dikelola secara bertanggungjawab, sementara bibit tanaman dan pupuk murid menyiapkan sendiri secara berkelompok.

 

 

Proses penanaman dilakukan bersama-sama pada pagi ini, yang diharapkan menjadi pengalaman belajar bagi para murid. Eka Dwi Lestari, murid kelas X/E10, mengaku sangat senang mengikuti kegiatan tersebut. "Senang rasanya bisa belajar berkebun bersama teman-teman, dengan praktik menanam secara langsung, kita menjadi tahu cara penanaman bibit secara benar dan cara perawatannya" ungkap Eka.

Di kokurikuler sebelumnya, lahan juga sudah dilakukan penanaman, namun karena dilakukan di musim kemarau, banyak bibit tanaman yang mati, sehingga perlu dilakukan penggantian.

 

Berlatih menanam tidak hanya menamcapkan benih ke tanah, tapi lebih dari itu penanaman bibit ini memiliki tujuan tujuan edukatif . Menurut Yogi F.R., S.Pd., salah satu guru pembimbing, menjelaskan bahwa “Pemilihan metode penanaman bibit tanaman pangan dengan polibag didasari oleh beberapa alasan strategis. Pertama Optimalisasi Lahan : Memanfaatkan lahan sekolah yang terbatas agar tetap produktif. Kedua Kemudahan Perawatan: Memudahkan proses pengontrolan media tanam, pemupukan, serta sistem pengairan. Ketiga Edukasi Pertanian : Memberikan pemahaman langsung kepada murid mengenai fase pertumbuhan tanaman bayam, mulai dari perawatan awal hingga masa panen tiba.” jelasnya

Yogi F.R S.Pd juga menyampaikan harapan besarnya terhadap keberhasilan program kokurikuler ini bagi para murid dan lingkungan sekolah.

"Harapan saya adalah kegiatan ini dapat menghasilkan panen bayam dan tanaman produktif lainnya secara optimal dan berkualitas, sekaligus menjadi percontohan budidaya sayur yang praktis bagi lingkungan sekitar," pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, murid tidak hanya diajak untuk lebih peduli terhadap lingkungan hijau, tetapi juga di bekali keterampilan praktis seputar bercocok tanam yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan ini, sekolah tidak hanya menciptakan lingkungan yang hijau, sehat, dan produktif, tetapi juga membangun karakter murid yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, dan peduli terhadap kelestarian alam. Dengan demikian, pemanfaatan halaman sekolah untuk budidaya tanaman pangan menjadi salah satu langkah konkret dalam mendukung ketahanan pangan, pembelajaran berbasis lingkungan, dan terwujudnya budaya Sekolah Adiwiyata yang berkelanjutan. (red-SMANSaKu/Istiqomah)

 

SMANSAKUTO

Berita Lainnya