SMANSAKUTO

Tarian Cepetan, Budaya Khas Kebumen

Kategori : Budaya   Dipublish pada tanggal 20/02/2025 21:07:53 WIB

#
Budaya 20/02/2025 21:07:53 WIB Dilihat 4138 kali

Tarian Cepetan, Budaya Khas Kebumen

SMANSaKuNews. Kesenian Cepetan atau Cepetan Alas merupakan salah satu kesenian tradisional asli Kebumen. Menurut sejarahannya, seni Cepetan berasal dari wilayah utara Kebumen yaitu Pejagoan wilayah Utara seperti Watulawang, Pengaringan, Peniron hingga Aditirto, serta wilayah Karanggayam dan sekitarnya. Kesenian ini mengandung unsur mistis dan spiritual sehingga gerakannya cenderung abstrak nan dinamis. Tari ini berasal dari kata Cepet (makluk halus /kesurupan). Karena keberadaannya banyak di gaerah pegunungan atau hutan (alas), maka tarian Cepetan juga disebut dengan Cepetan Alas (hutan)

Kesenian ini pada dasarnya lahir sekitar abad 19 sebagai bentuk perlawanan non fisik rakyat terhadap keberadaan pegawai pemerintahan Hindia Belanda yang membuka lahan secara besar-besaran di wilayah Kebumen Utara, khususnya di kawasan Kecamatan Karanggayam untuk perkebunan yang cukup luas (onderneming. Akibat pembukaan lahan perkebunan ini, beberapa lahan pertanian berubah menjadi perkebunan. Dampak dari pembukaan perkebunan ini, para petani mengalami penderitaan dan kekeringan, kelaparan  serta dilanda wabah penyakit yang mematikan. 

Atas dampak dari program perkebunan pemerintah Hindia Belanda ini, masyarakat di kawasan utara kemudian melakukan perlawanan dengan menakut-nakuti para penjaga perkebunan dengan penampakan makhluk halus, “Cepet” milik Hindia Belanda pada sekitar abad 19.  Dengan cara menakut-nakuti pemilik perkebunan dengan perwujudan makhluk halus cepet, yang menyeramkan itu, mereka menjadi tidak kerasan dan meninggalkan wilayah tersebut.

Cepetan berasal dari kata Cepet yang konon merupakan salah satu mahluk halus pada cerita masyarakat Kebumen khususnya di daerah pedesaan. Cepet digambarkan  seperti raksasa yang menyeramkan, bermuka merah, berambut gondrong dan suka menculik anak-anak. Untuk menggambarkan makhluk cepet ini, para penari biasanya menggunakan topeng yang terbuat dari kayu, dengan rambut terbuat dari ijuk dan berbagai bentuk karakter wajah, ada yang baik, buruk dan yang menyeramkan. Karakter pertama berupa manusia yang berarti baik, karakter kedua berupa hewan–hewan seperti monyet, harimau, dan gajah, dan karakter ketiga berupa makhluk halus yaitu cepet.

Kostum yang dipakai biasanya bernuansa hitam, dengan ikat pinggang dan bawahan dari kain jarit. Dalam perkembangannya di era modern, kesenian cepetan tidak selalu dibawakan secara magis dengan penari mengalami kesurupan sebagai daya tarik hiburan masyarakat di desa-desa, kesenian ini telah berevolusi menjadi sebuah kesenian hiburan khas Kebumen yang melibatkan seni tari dan musik dengan pementasan dilakukan di berbagai acara tradisional. Saat ini kesenian ini sudah mulai langka, sehingga beberapa sekolah mengangkat kembali kesenian cepetan ini agar tidak punah, serta sebagai bentuk apresiasi atas kebudayaan daerahnya sendiri, yaitu Kebumen. (red-SMANSaKu-Pak RT/disarikan dari berbagai sumber)

 

SMANSAKUTO

Berita Lainnya